Surabaya (beritajatim.com) – Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un memang terkenal dengan sejumlah peraturan yang ketat dan kontroversial untuk negaranya. Kini, ia meminta agar warganya mengganti nama yang terdengar seperti orang Korea Selatan menjadi nama yang lebih revolusioner.
Ia menyebut nama dari negeri tetangga dengan arti yang romantis seperti A Ri (yang tercinta), So Ra (cangkang keong), dan Su Mi (sangat cantik), amat populer.
Dikutip dari Daily Star, Kim Jong-un juga menegaskan, nama ala Korea Selatan itu menjadi tanda bahwa Seoul hanya menjiplak budaya Yankee Barat yang merosot dan mencoreng budaya ‘tinggi’ Korea Utara.
Selain itu, hal ini juga berdampak dengan mulai terbukanya informasi di Korea Utara sehingga nama militer mulai ditinggalkan. Inilah mengapa ia ingin menghentikan tren tersebut terjadi dan menjaga negaranya agar tetap tertutup.
Sebagai gantinya, ia ingin agar rakyatnya mengganti nama dengan makna patriotik. Seperti Chong Il (berarti pistol), Pok Il (bom), Chung Sim (kesetiaan) dan Ui Song (satelit).
[berita-terkait number=”5″ tag=”korea”]
Melansir dari Allkpop, seorang sumber warga di Provinsi Hamgyong Utara mengatakan kepada media jika pemberitahuan terus diumumkan sejak bulan lalu.
“Mereka memaksa kami untuk memperbaiki semua nama tanpa konsonan akhir dan mengubahnya menjadi nama yang revolusioner sampai akhir tahun ini,” jelasnya.
Pihak berwenang mengatakan bahwa nama yang diberikan tanpa konsonan terakhir adalah anti-sosialis dan flunkeyisme.
“Warga menunjukkan keengganan yang kuat untuk melakukannya karena mereka memaksa kami untuk memperbaiki nama anak kami dalam waktu yang singkat. Tapi apakah kita harus menamai nama anak – anak kita untuk mencerminkan kelaparan dan penindasan zaman ini?” Imbuhnya.
Bagi warga yang menolak untuk mengganti nama mereka hingga akhir tahun ini pun akan mendapat konsekuensi, yakni berupa denda yang cukup besar. Meski begitu, belum diketahui apakah pembayaran denda akan benar – benar diterapkan oleh pihak berwenang.
Sebagai informasi, ini bukan yang pertama kalinya nama warga menjadi persoalan di Korea Utara. Sebelumnya, Kim Jong-Un melarang penggunaan nama “Kim Jong-Un” untuk masyarakat biasa di tahun 2011, yang mana menjadi tahun pertama ia memimpin negara tersebut.
Apabila ada warga yang telah terlanjur memiliki nama yang sama, maka Kim Jong-Un akan memaksa mereka untuk menggantinya dan melakukan revisi identitas hingga ke dokumen resmi mereka. (mnd/nap)






