Pacitan (beritajatim.com) – Penjaringan calon siswa Sekolah Rakyat (SR) Pacitan gelombang kedua menghadapi tantangan serius. Salah satunya adalah minimnya pendaftar yang masuk, sementara tahun ajaran baru di sekolah formal sudah dimulai, termasuk kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Pendaftaran gelombang kedua awalnya dijadwalkan berakhir pada 17 Juli 2025. Namun hingga 17 Juli, baru 14 siswa yang mendaftar. Kondisi ini mendorong Dinas Sosial Kabupaten Pacitan untuk mempertimbangkan perpanjangan masa penjaringan.
“Kami terus melakukan identifikasi dan penyisiran melalui pendamping PKH serta koordinasi dengan pihak kecamatan,” ungkap Plt Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, ditulis Jumat (18/72025).
Tak hanya menyasar siswa yang tidak melanjutkan sekolah tahun ini, Dinas Sosial juga membidik anak putus sekolah pada satu hingga dua tahun terakhir. Mereka yang tidak masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) desil 1 dan 2, tetapi secara faktual berasal dari keluarga miskin, tetap dapat dipertimbangkan untuk mengikuti program Sekolah Rakyat.
“Kami juga sedang mencocokkan data Dapodik milik Dinas Pendidikan dan Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur agar anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah tahun ini bisa kami jaring,” imbuhnya.
Sementara itu, pemerintah pusat memberikan tambahan kuota gelombang kedua sebanyak 100 siswa. Kuota ini diprioritaskan bagi kategori Anak Tidak Sekolah (ATS) yang jumlahnya di Pacitan masih cukup tinggi, mencapai 1.187 anak.
Untuk menampung siswa tambahan, Pemkab Pacitan menyiapkan Balai Latihan Kerja (BLK) di Kelurahan Sidoharjo sebagai lokasi sementara proses belajar-mengajar.
Saat ini, gedung BLK tengah dalam tahap renovasi menyusul belum rampungnya pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat. [tri/aje]






