Selama ini semua lembaga survei manampilkan ‘’three horse race’’ balapan tiga kuda pacu, antara Anies Baswedan (ABW), Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto.
Wacana persaingan antar kandidat presiden 2024 sangat didominasi oleh survei yang mengukur elektabilitas dan popularitas calon presiden. Persaingan wacana di media massa pun hanya fokus pada dua hal itu, sehingga wacana mengenai gagasan seorang calon presiden terpinggirkan.
Selama ini semua lembaga survei manampilkan ‘’three horse race’’ balapan tiga kuda pacu, antara Anies Baswedan (ABW), Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto.
Ketiga kandidat itu saling bersaing di berbagai survei. Wacana ini sangat mendominasi perbincangan dan perdebatan di ranah publik, dan menjadi ‘’dominant discourse’’ atau wacana dominan, yang tidak memberi tempat terhadap perdebatan mengenai gagasan yang berkualitas.
Tiga ‘’kuda pacu’’ itu memakai caranya sendiri untuk menemui publik guna menjajakan dirinya. Prabowo punya caranya sendiri. Ganjar Pranowo punya cara tersendiri. ABW pun punya caranya sendiri.
ABW tidak menafikan pentingnya elektabilitas dan popularitas. Tetapi, ia menyayangkan tersingkirnya perdebatan mengenai gagasan itu dari perbincangan publik.
Selama tiga hari terakhir ini (17-19/3/2023) ABW berkunjung ke Jawa Timur. Ia memanfaatkan kunjungan itu secara maksimal, karena Jawa Timur adalah battle field, arena pertempuran, yang bakal menentukan hasil political war, perang politik, pada 2024.
ABW juga melihat Jawa Timur sebagai titik strategis yang bakal menjadi penentu kemenangan. Karena itu, Jawa Timur harus digarap dengan pendekatan ekstra teliti.
Selama kunjungan, ABW tidak sekadar berusaha mencari popularitas dan elektabilitas, tetapi juga menawarkan gagasan mengenai perubahan.
Ini adalah kunjungan pertama Anies sejak dideklarasikan sebagai calon presiden oleh Partai Nasdem, PKS (Partai Keadilan Sejahtera), dan Partai Demokrat. Rangkaian acara ABW sangat padat.
Dalam sehari ia bisa menjalani agenda sampai 7 acara, dimulai dari subuh dan berakhir tengah malam. Pada hari pertama (17/3) ABW mengawali kunjungan dengan melakukan shalat Jumat di Masjid Nasional Al-Akbar, Surabaya. Ribuan umat yang mengikuti shalat Jumat memanfaatkan kesempatan itu untuk mengerubuti ABW dan meminta berfoto bersama.
Setelah shalat Jumat, ABW makan siang di sentra kuliner Gayungan yang ada di seberang masjid. Jarak sentra kuliner dengan masjid yang hanya menyeberang jalan harus ditempuh sampai 40 menit, karena massa berjubel mendekati ABW untuk berfoto. ABW sebenarnya sudah dijadwalkan untuk makan siang di sebuah resto di dekat masjid, tapi dia memilih untuk makan siang di sentra kuliner untuk menikmati makanan tradisional sekaligus berinteraksi dengan masyarakat.
ABW kemudian melanjutkan acara ke Dyandra Convention Center untuk mengikuti ‘’Simfoni Kebangsaan’’. Acara diikuti oleh partai pendukung, jaringan simpul relawan, dan masyarakat umum. Ruangan hall utama yang berkapasitas 4.000 tempat duduk penuh sesak oleh massa. Di bagian selasar depan masih sangat banyak orang yang tidak bisa masuk ke ruangan utama.
Malam harinya di Hotel Shangrila, ABW mengadakan pertemuan dan makan malam dengan pimpinan partai pengusung. Acara kemudian dilanjut dengan ‘’Chief Editors Meeting’’, dialog dengan pemimpin redaksi, pimpinan media, kolumnis, dan wartawan senior Surabaya. Acara berlangsung lebih dari dua setengah jam.
ABW mengatakan bahwa acara seperti itu rasanya seperti ujian desertasi, karena pertanyaan yang diajukan sangat tajam dan berbobot. ABW menjawab semua pertanyaan sensitif secara terbuka dan mempersilakan peserta untuk mengutip pernyataan-pernyataannya. Pertanyaan tajam seperti Formula E dan KPK, calon wakil presiden, IKN (Ibukota Nusantara), masalah utang luar negeri, dan beberapa isu lain, dijawab ABW secara terbuka.
Pada forum inilah ABW menawarkan gagasan-gagasannya mengenai perubahan. ABW juga menyampaikan concern terhadap media yang ikut meramaikan wacana elektabilitas dan popularitas ketimbang gagasan.
ABW berkunjung ke sejumlah titik untuk menemui warga dan sebisa mungkin menyampaikan gagasan mengenai perubahan. Hari kedua diisi dengan shalat subuh berjamaah di Masjid Rakhmat, Kembang Kuning, Surabaya. Masjid ini dikenal sebagai salah satu yang tertua di Surabaya. Para peziarah yang datang ke Surabaya biasanya datang ke Masjid Ampel untuk berdoa di makam Sunan Ampel, lalu datang ke Masjid Rakhmat yang didirikan oleh mertua Sunan Ampel, dan kemudian menziarahi makam Mbah Bungkul di area Bungkul.
ABW memanfaatkan kunjungan ke Jawa Timur untuk berziarah ke beberapa tempat. ABW menziarahi makam Sunan Ampel, makam Mbah Bungkul, dan juga makam K.H Mas Alwy, kiai yang menciptakan nama ‘’Nahdlatul Ulama’’ pada 1926 yang kemudian menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia. ABW juga berziarah ke makam Syaikhona Cholil di Bangkalan dalam kunjungan ke Madura.
Kunjungan ABW ke Madura dipusatkan di Pondok Pesantren At-Taroqy, Karongan, Sampang pimpinan K.H Farouq Alawy, putra ulama legendaris K.H Alawy Muhammad. Madura adalah wilayah yang menjadi penyumbang suara terbesar bagi pasangan Prabowo-Sandiaga Uno pada pilpres 2019. Kali ini suara Madura akan menjadi rebutan sengit antara ABW dan Prabowo. Calon lain juga pasti ingin merebut suara Madura. Tetapi, kemungkinan besar para pemilih Madura akan lebih fokus kepada ABW dan Prabowo.
Melihat antusiasme warga di Sampang yang sangat tinggi, sangat mungkin ABW akan mendapatkan suara terbesar. Tentu saja Sampang tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran untuk merebut suara Madura. Tetapi, melihat antusiasme warga serta dukungan dari ulama dan kiai dari berbagai penjuru Madura, terlihat bahwa ABW optimis dengan dukungan pemilih di Madura.
Hari terakhir dimanfaatkan oleh ABW untuk mengikuti festival ‘’Menanam Kebaikan Menebar Perubahan’’ di halaman parkir Grand City.
Dari kunjungan itu ABW menyimpulkan bahwa semangat perubahan terasa sangat besar di Jawa Timur. Sebelumnya, banyak yang merasa ragu-ragu dengan keinginan perubahan. Tetapi, kunjungan ABW ini membawa resonansi yang sangat besar. Resonansi ini akan berkembang terus dan menjadi gelombang perubahan yang besar.
ABW mengakui bahwa pihaknya merancang kunjungan ke Jawa Timur dengan teliti dan hati-hati. Bahkan, sempat juga muncul rasa waswas. Tetapi, muhibah 3 hari itu meyakinkan ABW bahwa perubahan akan terjadi. Dan, Jawa Timur akan menjadi simpul penting lahirnya perubahan itu. (*)






