Pamekasan (beritajatim.com) – Anggota DPR RI Dapil Jatim XI Madura, Ansari mendorong program Sekolah Rakyat di Madura, dapat menjadi pusat pembelajaran yang mengangkat sosio kultur kearifan lokal, sekaligus bersinergi dengan lembaga pendidikan berbasis pesantren.
Hal tersebut bukan tanpa alasan, sebab pihaknya menilai jika kearifan lokal di Madura, masih sangat kental dengan nilai keagamaan dan kaya dengan beragam budaya yang tidak boleh hilang ditelan zaman, sehingga harus selalu dipupuk salah satunya melakui sektor pendidikan.
“Hal ini penting untuk kita pahami bersama, sekolah rakyat jangan sampai menghilangkan nilai kearifan lokal dan harus selalu bersinergi dengan pesantren, para ulama, kiai, dan tokoh lainnya. Terlebih Madura sangat kental dengan nilai keagamaan dan kaya akan beragam budaya ketimuran,” kata Ansari, di Pamekasan, Minggu (28/9/2025).
Sangat penting juga untuk untuk memasukkan materi muatan lokal Madura, sekaligus materi keagamaan dalam materi pembelajaran di Sekolah Rakyat, khususnya di Madura. “Oleh karena itu, kami mendorong agar pihak sekolah rakyat menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan pesantren, bisa juga dengan organisasi kemasyarakatan, seperti NU, Muhammadiyah, SI, dan lainnya,” ungkapnya.
“Kami rasa hal ini sangat penting agar kita bisa selalu melestarikan esensi kearifan lokal, terlebih di Madura juga banyak lembaga pendidikan berbasis pesantren yang hampir sama dengan konsep yang diterapkan program Sekolah Rakyat, yakni boarding school,” jelasnya.
Melalui program yang digagas Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Pihaknya berharap keberadaan sekolah rakyat bukan hanya sekedar program pendidikan semata, tetapi juga sebagai jalan penyemangat bagi para generasi bangsa, sekaligus sarana menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sebagai bagian budaya nasional, khusunya di Madura.
“Karena kami meyakini jika ini tidak dilakukan, bukan tidak mungkin beberapa tahun mendatang kebudayaan kita hanya tinggal cerita, dan bangsa kita akan kehilangan identitas kebudayaan karena sudah tidak ada lagi yang peduli,” sambung Ansari.
Ungkapan yang disampaikan anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, juga mendapat atensi dan apresiasi dari Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf, khususnya dalam forum koordinasi penyelenggaraan Sekolah Rakyat dan Kesejahteraan Sosial se-Madura di Pendopo Bangkalan, Sabtu (27/9/2025).
“Bahkan dalam satu kesempatan di Bangkalan (Madura), Kemensos juga menginstruksikan kepada Kepala Sekolah Rakyat, agar senantiasa intens menjalani komunikasi dengan para tokoh dalam hal pendidikan agama dan karakter,” pungkasnya. [pin/ted]






