Sidoarjo (beritajatim.com) – Dengan dukungan anggaran jumbo hingga Rp16,5 miliar pada Tahun Anggaran 2025, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Sidoarjo justru gagal memenuhi ekspektasi. Prestasi para atlet yang berlaga di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX Tahun 2025 merosot dari posisi runner-up menjadi hanya peringkat ketiga.
Turunnya prestasi ini menjadi perhatian serius DPRD Sidoarjo. Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo, H. M Dhamroni Chudlori, mengaku kecewa. Ia menilai KONI Sidoarjo tidak mampu memaksimalkan potensi meski sudah mendapat sokongan anggaran sangat besar dan mengirimkan ribuan atlet.
“Para atlet yang diterjunkan dalam Porprov Jatim kemarin sudah gagal total dalam memenuhi target utama. Salah satunya menjaga diri menjadi juara 2 (Runner UP). Tapi sekarang hasilnya turun menjadi juara ketiga,” ungkap Dhamroni, Senin (7/7/2025).
Dhamroni menyoroti dugaan konflik internal di tubuh KONI Sidoarjo yang berdampak langsung pada persiapan para atlet. Ia menyebut persoalan internal ini menjadi salah satu penyebab gagalnya KONI Sidoarjo mempertahankan posisi kedua.
“Kami mengira persoalan prestasi menurun ini karena pengurus KONI Sidoarjo sendiri. Karena di dalamnya ada konflik internal itu. Karena itu, wajar kalau KONI Sidoarjo gagal meraih target. Kami panggil untuk evaluasi semua di dewan,” tegas politisi PKB ini.
DPRD Sidoarjo berencana memanggil jajaran pengurus baru KONI untuk dimintai keterangan. Komisi D tak ingin kasus serupa terjadi lagi sehingga masa depan para atlet Sidoarjo tidak dikorbankan oleh kepentingan sempit.
“Kami tidak mau hal-hal seperti ini terjadi lagi. Kasihan para atlet kita yang sudah bersusah payah berjuang, tapi pengurusnya hanya mengurusi kepentingan pribadi atau kelompoknya saja tanpa memikirkan rutinitas latihan para atletnya,” kata Dhamroni.
Sementara itu, Ketua KONI Sidoarjo, Imam Mukri Affendi, tidak menampik bahwa hasil yang diperoleh para atlet Sidoarjo jauh dari target awal. Mantan Camat Wonoayu itu mengakui ada beberapa cabang olahraga yang perolehan medalinya meleset dari proyeksi.
“Benar yang disampaikan DPRD itu. Saya sebagai Ketua Umum KONI, dengan dibantu bidang Binpres, hasil pemetaannya memang ada potensi mempertahankan posisi runner-up (kedua). Tetapi secara faktual, ada beberapa Cabor yang perolehan poin medalinya tidak sesuai target yang diharapkan saat awal pemberangkatan,” terang Imam.
Meski demikian, Imam berdalih meningkatnya drastis perolehan medali tuan rumah Kota Malang, yang melonjak hingga 185 persen, turut mempengaruhi posisi Sidoarjo. Ia juga menegaskan hasil medali tetap harus diapresiasi karena murni dari pembinaan masing-masing pengurus cabang olahraga.
“Semua tetap patut dibanggakan. Karena prestasi atlet-atlet kita merupakan hasil murni dari pembinaan Pengkab dan Pelatih masing-masing Cabor. Itu yang harus tetap diapresiasi oleh semua pihak,” paparnya.
Sebagai informasi, pada Porprov Jatim IX ini KONI Sidoarjo mengirimkan 1.322 atlet yang berlaga di 67 cabang olahraga. Mereka berhasil membawa pulang total 636 poin, dengan rincian 87 medali emas, 87 perak, dan 116 perunggu. Sayangnya capaian ini tidak cukup untuk mempertahankan posisi kedua, membuat Sidoarjo harus puas di urutan ketiga. [isa/beq]






