Surabaya (beritajatim.com) – Kejahatan jalanan di Surabaya terbilang seperti tidak ada habisnya. Meski pihak kepolisian terus melakukan penangkapan dan ungkap kasus.
Berulang kali Polrestabes Surabaya dan Polres Pelabuhan Tanjung Perak merilis kejahatan jalanan seperti pencurian, penggunaan dan kurir narkoba, serta begal dengan senjata tajam. Parahnya, sebagian kasus melibatkan anak di bawah umur.
Terbaru, Polrestabes Surabaya menangkap 74 bandit curanmor dalam waktu dua bulan. Fakta mengejutkan, ternyata para bandit yang didominasi residivis ini melakukan perekrutan kepada anak-anak di bawah umur.
Hal tersebut disampaikan oleh Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Mirzal Maulana. Diwawancarai beritajatim, Mirzal mengatakan jika para penjahat jalanan memiliki sistem untuk merekrut anak-anak yang putus sekolah.
“Awal-awal diajak, disuruh mengamati. Lalu ketika sudah dirasa cukup maka anak-anak ini akan menjadi eksekutor. Dari data penangkapan rata-rata anak putus sekolah (yang direkrut),” tegas Mirzal, Kamis (10/11/2022).
Mirzal menambahkan, di November ini, ada tiga bandit curanmor anak-anak berumur 16 tahun yang ditangkap oleh Unit Resmob dan Jatanras Satreskrim Polrestabes Surabaya.
“Faktornya ekonomi dan putus sekolah. Jadi sebenarnya untuk memberantas kejahatan di Kota Surabaya perlu sinergi semua lini utamanya dalam tindakan pencegahan (preventif) baik masyarakat atau dinas-dinas berwenang. Polisi di porsi penegakan hukum,” imbuh Mirzal.
Sementara itu, beritajatim juga mewawancarai Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya, AKBP Daniel Marunduri. Berbeda dengan kejahatan curanmor, Daniel mengatakan jika dalam kejahatan narkoba, anak-anak lebih sering menjadi korban penyalahgunaan, bukan terlibat langsung dalam jaringan.
“Banyaknya jadi pengguna. Ada pun sedikit sekali angkanya di level kurir. Belum ada yang bandar,” ujar Daniel.
Daniel menyatakan, keterlibatan anak-anak dalam kejahatan narkoba lantaran salah pergaulan karena levelnya masih pengguna. Saat disinggung, anak-anak yang berperan menjadi kurir, dari data yang dikumpulan, faktor ekonomi menjadi alasan pelaku.
“Sebenarnya, kalau hanya mengandalkan polisi untuk memberantas semua kejahatan, jumlah kita kurang. Maka perlu adanya sinergi antar instansi, dengan masyarakat untuk menyelamatkan anak-anak menjadi penjahat di masa mendatang,” imbuh Daniel.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Surabaya”]
Dari data yang dirilis oleh Kominfo Jawa Timur, data Angka Partisipasi Sekolah (APS) Jawa Timur untuk jenjang pendidikan SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi masing-masing sebesar 99,40 persen, 97,76 persen, 74,14 persen, dan 26,27 persen.
“Hal ini memperlihatkan bahwa partisipasi sekolah cenderung turun seiring meningkatnya jenjang pendidikan dengan berbagai faktor penyebabnya,” ujar Kepala BPS Jatim sebagaimana dilansir di laman resmi BPS Jatim dalam laporan Statistik Daerah Provinsi Jawa Timur 2022.
Dari keterangan Kominfo Jatim, pandemi Covid-19 di awal 2020 memberi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan, termasuk Jawa Timur. Angka Putus Sekolah Jawa Timur pada tahun 2020 naik tipis untuk jenjang pendidikan SMP dan SMA sederajat.
Setelah puncak pandemi, Angka Putus Sekolah SMP, SMA/Sederajat pada tahun 2021 perlahan turun masing-masing menjadi 0,61 dan 0,91. Sedangkan untuk SD sedikit meningkat dari 0,08 menjadi 0,10. [ang/beq]






