Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) lolos program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) ke Deggendorf Institute of Technology (DIT), Jerman.
Dia adalah Amanda Debi Arafah, anak dari penjual pentol keliling dan pengrajin rajut. Dalam kesehariannya, Amanda juga membantu keluarganya dengan menjadi pengajar les mata pelajaran.
Capaian Amanda saat ini tidaklah mudah. Untuk bisa menjadi awardee IISMA 2023, dia harus menjalani serangkaian proses seleksi yang panjang. Mulai dari seleksi berkas, tes kebhinekaan hingga interview section.
“Ketika hari pengumuman tiba, saya begitu excited sekaligus cemas. Karena jika diterima akan banyak persiapan lagi, baik dari sisi kelengkapan maupun pendanaan,” ungkap Amanda, ditulis Kamis (16/11/2023).
Karena tak ingin membebani ayahnya yang berjualan pentol, Amanda pun mulai mengumpulkan hasil tabungannya mengajar sembari dibantu oleh ibunya yang juga menerima order rajutan di rumah.
BACA JUGA:
PENS Temukan Startup Binaan dengan Investor di Business Matching dan Pameran Produk
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa berangkat dan mengikuti program ini. Meski dengan kerja keras, namun saya selalu percaya bahwa usaha tak akan mengkhianati hasil. Bahkan, belakangan pun saya tahu ternyata IISMA mengganti dana pengurusan visa, asuransi, biaya hidup dan keperluan darurat,” katanya.
Amanda tak sendiri. Ada 23 mahasiswa lain yang menerima program IISMA tersebut. Bersama mereka, ia diwajibkan melaksanakan kegiatan Pre-Departure Series yang merupakan kegiatan bimbingan sekaligus pembekalan sebelum keberangkatan.
Setelah itu, satu persatu rombongan awardee yang tersebar di seluruh penjuru dunia mulai berangkat ke kampus tujuan masing-masing. Bagi Amanda, ini menjadi pengalaman tak terlupakan. Setibanya di Jerman, berbagai adaptasi pun dilakukan.
“Buat saya ini first experienced, seperti kebiasaan untuk jalan kaki, memilah sampah dan membuang pada tempat sampah yang sesuai, kebiasaan untuk selalu on-time ketika mempunyai janji temu, menaati rambu lalu lintas, self-service, dan masih banyak lagi. Saya merasakan disiplin yang benar-benar dilakukan, sangat berbeda dengan di Indonesia,” tutur alumni MAN 2 Kediri ini.
Dari segi perkuliahan, awardee di DIT tergolong dalam international student winter semester. Dimana mahasiswa diberi kebebasan memilih course dengan minimal ECTS sebanyak 15.
Memilih jurusan General Engineering, Amanda pun mengambil sejumlah course linier dengan mata kuliah yang ada pada jurusannya di Teknik Mekatronika, PENS. Seperti Microcontroller, Solidworks, Quality Management, Matlab for Engineering, dan Scientific Writing.
Ia mengungkapkan, mahasiswa di DIT tidak dituntut untuk selalu hadir di kelas, selama assignment dan assessment dari course tersebut terpenuhi. Kata dia, kampus sangat memfasilitasi mahasiswanya untuk menunjang pembelajaran lebih baik.
Misalnya saja dengan adanya akses computer laboratory dengan penyimpanan yang telah terkoneksi dengan akun milik masing-masing mahasiswa.
“Dengan demikian mahasiswa dapat menggunakan berbagai software dan ketika file dari software tersebut selesai dibuat akan secara otomatis dapat tersimpan pada akun mahasiswa,” katanya.
BACA JUGA:
PENS Surabaya Kukuhkan Dua Guru Besar Baru di Bidang IoT dan AI
Amanda mengaku, meski dia disibukkan dengan perkuliahan namun masih bisa mengikuti kegiatan komunitas kampus. Amanda bergabung dengan Komunitas Erasmus Student Networking (ESN), yakni komunitas mahasiswa internasional untuk lebih mengenal satu sama lain dan saling berkolaborasi.
Salah satu kegiatan yang paling berkesan menurutnya adalah saat dia bersama komunitas melakukan pendakian ke salah satu gunung dengan ketinggian sekitar 1500 m di Bavarian National Park Germany.
Selain itu, Amanda dan teman awardee DIT juga sering menghabiskan waktu di akhir pekan untuk menjelajah daerah di sekitar kampus, dengan memanfaatkan deutshland ticket khusus mahasiswa untuk mengakses seluruh transportasi regional dengan harga terjangkau sebesar 29 Euro perbulan.
Tiket tersebut memudahkan mereka untuk menggunakan seluruh transportasi di negara Jerman dengan gratis, bahkan bisa juga digunakan hingga ke beberapa negara tetangga Jerman seperti Austria.
“Tak henti-hentinya saya mengucap syukur bisa sampai sini. Berbagai pengalaman baru, dan terlebih lagi bisa berada di Eropa, merasakan pergantian beberapa musim. Belajar banyak hal termasuk mengoptimalkan potensi dan personal value. Begitu merubah pandangan saya dan makin memantapkan saya untuk berjuang lebih keras lagi ke depan,” tandasnya. [ipl/beq]






