Surabaya (beritajatim.com) – Sudah sewajarnya orangtua ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Pun seperti yang dilakukan oleh pasangan ayah ibu di Kanada terhadap anak-anaknya.
Kisah keluarga ini cukup mengharukan. Mereka tidak ingin meninggalkan anak-anaknya menjalani sisa hari mereka ke depan dengan tidak cukup memori visual yang menakjubkan dan membahagiakan.
Dilansir dari nypost.com, satu keluarga Kanada yang terdiri dari enam orang saat ini sedang melakukan tur global. Mereka menghabis waktu mengabadikan segala pemandangan menakjubkan dari berbagai penjuru dunia.
Ini lantaran tiga dari empat anaknya terancam mengalami kebutaan akibat penyakit genetik. Tak mau membiarkan anak-anaknya tak punya memori soal indahnya pemandangan, ayah dan ibu itu memutuskan mengajak mereka keliling dunia.
Edith Lemay dan Sebastien Pelletier mengatakan anak-anak mereka, Mia (12), Colin (7), dan Laurent (5) menderita retinitis pigmentosa, kelainan genetik yang mempengaruhi mata dan menyebabkan kehilangan penglihatan secara perlahan.
Sedangkan satu putra mereka yang lolos dari penyakit genetik itu, Leo (9), diberi izin dan turut senang dengan usulan kedua orangnya untuk pergi keliling dunia sebagai hadiah untuk kakak dan adik-adiknya.
“Saat ini tidak ada obat atau pengobatan untuk memperlambat penyakit ini, sehingga kami telah membuat misi sebagai orang tua mereka untuk memberikan anak-anak kami pengalaman melihat dunia sebelum mereka benar-benar kehilangan penglihatan mereka, yang diprediksi terjadi di usia paruh baya,” ujar Lemay.
Bahkan diagnosis dokter mengatakan bahwa anak sulung mereka bersiap menghadapi kebutaan pada usia 30 tahun.
“Saya pikir, saya tidak akan menunjukkan gajah dalam sebuah buku, saya akan membawanya untuk melihat gajah asli,” kata Lemay, tentang keadaan Mia yang merekomendasikan keluarga membuat “kenangan visual.”
“Saya akan mengisi memori visualnya dengan gambar terbaik dan terindah yang saya bisa,” katanya.
Pasangan ini mulai menabung untuk perjalanan mereka, yang seharusnya terjadi pada 2020 tetapi ditunda karena pandemi Covid-19. Tempat kerja Lemay juga memberikan uang untuk petualangan itu.
“Dengan diagnosis, kami memiliki urgensi,” tambah Pelletier.
“Ada banyak hal hebat yang dapat dilakukan di rumah, tetapi tidak ada yang lebih baik daripada bepergian. Tidak hanya pemandangannya tetapi juga budaya dan orang yang berbeda,” kata dia.
Keluarga kecil yang terdiri dari enam orang ini memulai perjalanan mereka di sekitar Kanada timur pada Juli 2021. Pada Maret 2022, mereka memulai tur internasional mereka di Namibia.
Pekan lalu, mereka pergi dari Mongolia ke Indonesia dan melakukan perjalanan dengan tujuan untuk mencoret daftar kegiatan yang telah dibuat oleh anak-anak, mulai dari menunggang kuda hingga minum jus di atas unta.
Teman dan penggemar merekka mengikuti perjalanan mereka melalui pembaruan rutin di Facebook dan Instagram.
Dengan banyak yang tersisa untuk dilihat, keluarga memperkirakan mereka tidak akan pulang ke Quebec setidaknya selama enam bulan lagi.
“Perjalanan ini telah membuka mata kami untuk banyak hal lain, dan kami benar-benar ingin menikmati apa yang kami miliki dan orang-orang di sekitar kami,” kata Pelletier.
Meskipun orang tua telah melakukan apa yang mereka bisa untuk mempersiapkan anak-anak mereka menghadapi tantangan yang mengubah hidup di masa depan, mereka tetap optimis bahwa anak-anak mereka tidak akan pernah buta.
“Semoga sains akan menemukan solusinya,” tambah Pelletier.
“Kami menyilangkan jari kami untuk itu. Tapi kami tahu itu mungkin terjadi, jadi kami ingin memastikan anak-anak kami siap menghadapi tantangan ini,” tambah dia. [adg/beq]







