Ponorogo (beritajatim.com) – Anak-anak pengungsi Desa Talun yang terdampak tanah longsor di Gunung Banyon nampak ceria di lokasi pengungsian. Usut punya usut ternyata anak-anak tersebut baru saja mendapatkan trauma healing dari tim Polres Ponorogo.
Tim trauma healing Polres Ponorogo memberikan semangat serta motivasi kepada mereka. Selain memberikan semangat dan motivasi, petugas dari korps Bhayangkara itu juga mengajak anak-anak pengungsi bernyanyi dan bermain. Anak-anak pun menjadi terhibur dan langsung tertawa renyah. Seolah anak-anak melupakan rasa trauma yang menimpa mereka waktu longsor beberapa waktu lalu.
“Kami sengaja terjunkan tim trauma healing. Tujuannya kita ingin mengembalikan keceriaan anak-anak setelah dilanda bencana tanah longsor. Dengan demikian, harapannya, mereka melupakan bencana longsor yang telah terjadi belum lama ini,” ungkap Kapolres Ponorogo, AKBP Catur Cahyono Wibowo, Jumat (28/10/2022) siang.
[berita-terkait number=”3″ tag=”longsor-ponorogo”]
Catur prihatin dengan kejadian tanah longsor yang terjadi di Gunung Banyon yang berada ndi Desa Talun Kecamatan Ngebel. Dia berharap, warga yang menjadi korban terdampak longsor, cepat bangkit dan bisa beraktivitas kembali. Mereka bisa bekerja tanpa merasa takut dan was-was. “Warga juga tidak sendiri, karena ada bhabinkamtibmas dan babinsa yang akan selalu turun mendampingi warga terdampak di Desa Talun,” katanya.
Selain memberikan hiburan kepada anak-anak, Catur menyebut tim trauma healing juga memberikan motivasi kepada warga, agar bisa beraktivitas kembali, serta anak-anak yang tinggal di lokasi tersebut juga bisa beraktivitas, bermain dan tersenyum kembali. “Kami bikin senang anak-anak disini, mengajak bercerita, bernyanyi, dan bermain,” pungkas mantan Kapolres Batu tersebut.
Untuk diketahui sebelumnya, tanah longsor di Gunung Banyon terjadi pada Minggu (23/10) malam itu, berada di Gunung Banyon. Bahkan longsor susulan berpotensi terjadi, jika hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di seputar Gunung Banyon tersebut.
“Di puncak longsor pertama kali tadi malam itu masih banyak air dan material. Sehingga jika hujan dengan intensitas tinggi sangat berpotensi untuk terjadi longsor susulan,” kata salah satu anggota TRC BPBD Ponorogo, Hadi Susanto.
Potensi longsor susulan pun bisa saja terjadi, karena posisi pusat longsor di Gunung Banyon merupakan retakan tanah yang lama. Retakan tanah di Gunung Banyon ini, muncul pertama kali pada tahun 2016. Sejak saat itu, setiap musim penghujan diperkirakan timbul retakan. Puncaknya pada Minggu lalu terjadi tanah longsor. “Sejak tahun 2016, pemukiman warga yang berada di lereng Gunung Banyon sudah berstatus zona merah,” katanya.
Dengan adanya tanah longsor itu, ratusan warga yang berada dipemukiman lereng gunung tersebut mengungsi. BPBD Ponorogo fokus untuk melakukan pelayanan dasar untuk warga yang mengungsi. Mulai dari pendirian dapur umum, hingga pemberian selimut dan fasilitas kesehatan. “Ada ratusan warga yang terdampak akibat kejadian tanah longsor di Gunung Banyon,” pungkasnya. [end/suf]







