Jember (beritajatim.com) – Sebuah ambulans rusak gara-gara dipakai sejumlah oknum perangkat di salah satu desa di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ambulans itu sudah dua kali mengalami kerusakan.
“Sebetulnya ambulans desa ada SOP-nya (prosedur operasional standar). Yang memakai seharusnya sopir ambulans desa. Tapi kenyataan di lapangan, semua perangkat (di salah satu desa) memakainya,” kata Kepala Puskesmas Silo I Adi Widjaja, Selasa (1/8/2023).
Menurut Adi, sebenarnya ambulans desa boleh dibawa asalkan dikendarai pengemudi khusus ambulans desa. “Tapi saya pernah melihat sendiri, yang memakai banyak orang. Karena banyak orang, tidak semua tahu posisi persneling di mana, cara-caranya bagaimana, karena tidak terlatih untuk ambulans desa,” katanya.
Ini satu-satunya kasus yang ditemui dari 248 desa dan kelurahan di Jember, “Saya tidak tahu kenapa kok ambulans desa sampai dipakai orang lain. Saya sempat tanya ke sopirnya, kenapa kok dipakai orang lain. Dia menyampaikan cuma untuk beli air,” kata Adi.
“Kepergoknya memang pas beli air. Tapi masyarakat menyampaikan bahwa ambulans dibawa ke mana-mana. Katanya (fenomena) itu sudah berjalan lama. Karena saya baru di situ (jadi Kepala Puskesmas Silo I), sekitar delapan bulanan,” kata Adi.
Adi sudah memperingatkan sopir ambulans tersebut. “Saya sampaikan bahwa ambulans desa milik Dinas Kesehatan. Jadi yang memegang pertama-tama sopirnya adalah yang sudah ditunjuk Dinas Kesehatan,” katanya. Puskesmas Silo I sudah melayangkan surat teguran.
Apa kerugian ambulans desa jika dikendarai sopir biasa dan bukan khusus sopir ambulans? “Dia tidak merasa memiliki,” kata Adi.
Alhasil ambulans desa itu mengalami dua kali kerusakan. “Dulu kerusakannya lebih parah. Ambulans desanya tidak bisa berjalan. Saat ini kerusakan yang kedua,” kata Adi.
Saat ini anggaran untuk perbaikan ambulans itu masih belum ada. Adi meminta PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan) untuk mengalokasikan anggaran untuk perbaikan ambulans desa.
Adi belum bisa menyebutkan rinci kerusakan saat ini. Namun yang terang, sebelumnya Puskesmas Silo I harus mengeluarkan uang Rp 5 juta untuk perbaikan kerusakan terdahulu. “Sementara ini ambulans itu kami tarik dulu. Kami akan anggarkan untuk perbaikannya,” katanya.
Penarikan ambulans ini sempat dihalangi kepala desa. “Saat mobil itu ditelantarkan di pinggir jalan, kami sudah sampaikan mobil itu kami tarik ke puskesmas. Tapi karena dihalang-halangi kepala desa, saya bilang, ini perintah Kepala Dinas Kesehatan agar ambulans desa segera ditarik.
Penarikan ambulans juga mengakibatkan sengketa dengan sang sopir. “Kami mengambil langkah diam dulu untuk berkomunikasi agar tidak terjadi apa-apa di puskesmas, karena sopir ambulans ini tidak bisa kami koordinasikan,” kata Adi.
“Pada waktu kami buatkan jadwal untuk membacking kegiatan di puskesmas, sopir ambulans itu tidak pernah hadir. Dalam artian, apabila di puskesmas terjadi lonjakan pasien yang perlu dirujuk ke rumah sakit, dia tidak memback up. Teman-teman sopir ambulans dari tiga desa lain yang bekerja terus untuk membacking kegiatan puskesmas,” kata Adi.
Mencegah hal serupa tak terjadi lagi, Adi akan berkoordinasi dengan pemerintahan desa dan kecamatan untuk memastikan ambulans desa tidak boleh digunakan semaunya. “Jadi usahakan seperti istri kedua, harus dirawat. Pada waktu bangun tidur, harus dicek semua kelengkapannya, karena ambulans ini tidak direncanakan penggunannya. Jadi sewaktu-waktu ada yang butuh bisa langsung dilayani,” katanya.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Kesehatan Jember Hendro Soelistijono sudah memerintahkan puskesmas untuk menarik ambulans desa tersebut. “Kami sudah hentikan gaji sopirnya, karena tidak melakukan pelayanan,” katanya.
Hendro mengingatkan, kinerja semua sopir ambulans desa akan dievaluasi oleh puskesmas. “Kepala Puskesmas yang akan melaporkan kepada kami. Atas dasar itulah kami memberikan reward dan punishment. Kita lihat prosesnya. Tentu harus ada langkah-langkah,” katanya.
Ketua Komisi D DPRD Jember Hafidi meminta ambulans itu segera diperbaiki dan dikembalikan ke Puskesmas Silo I. “Kalau memang kesulitan anggaran, Komisi D urunan,” katanya berseloroh. [wir]






