Banyuwangi (beritajatim.com) – Ririn merupakan warga Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi yang sukses atas usahanya membuat kostum tari dan karnaval. Tiap tahun, usahanya terus mengalami peningkatan yang cukup pesat.
Terutama, saat mendapat bantuan pembiayaan dari PT Amartha Mikro Fintek (Amartha). Perusahaan yang berdiri sejak 14 tahun lalu itu konsisten memberikan layanan keuangan inklusif kepada pelaku ekonomi akar rumput, terutama UMKM yang dijalankan oleh kaum perempuan.
Perusahaan pembiayaan berbasis teknologi ini terus mendorong usaha mikro melalui pembiayaan produktif.
Ririn merupakan salah satu pelaku UMKM yang beruntung tersebut. Wanita 45 tahun itu merasakan manfaat pembiayaan dari Amartha untuk mengembangkan usahanya.
“Dulu saya tidak pernah dan tidak berani meminjam modal sehingga modalnya sedikit sekali, seandainya berkembang cuma bisa satu kostum atau dua kostum,” kata Ririn
Namun kemudian memberanikan diri mengambil pinjaman untuk menambah modal. Berkat Amartha, UMKM yang sebelumnya stagnan jadi semakin berkembang.
“Saya sudah mendapat pembiayaan ke tiga dari Amartha. Saya percaya karena prosesnya mudah dan ada pendampingan,” kata Ibu Ririn.
Langkah inspiratif Ririn membuat usahanya terus tumbuh. Selain itu, dirinya juga sekaligus turut melestarikan budaya daerah Banyuwangi.
“Saya dulu mulanya adalah penari, sempat dilarang berkesenian oleh orangtua. Namun karena bakat ya, jadi saya memutuskan melanjutkan karier di dunia tari,” ungkapnya.
Ririn mengaku, suntikan modal dari Amartha itu mampu memompa usahanya itu. Pembiayaan itu digunakan untuk membeli bahan karyanya. Kini, hasilnya produksinya bermanfaat di berbagai ajang. Di antaranya ajang tahunan Gandrung Sewu dan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC).
“Sekarang ada tujuh orang karyawan, kalau dulu 12, terus karena Covid-19 kakak saya yang membantu ke Sulawesi, jadinya sekarang cuma tujuh karyawan, delapan sama pelatih tari,” ujarnya.
Bahkan, kostum buatannya telah merambah hingga ke luar Banyuwangi, mulai Jember hingga Malang. Sebagian juga dikirim ke luar pulau yakni Sumatera, Kalimantan dan menembus pasar luar negeri yakni Malaysia.
“Dulu kenalnya di Facebook, kemudian menghubungi dan pesan kostum tari. Saya bahkan sampai diundang ke Malaysia,” akunya.
Ririn menyebut, pada momen tertentu omsetnya meningkat tajam. Bahkan, penghasilannya bisa mencapai ratusan juta dari usahanya menyewakan kostum serta merias.
“Juni, Juli, dan Agustus, itu bulan-bulan ramai. Omsetnya kemarin bisa Rp300 juta,” katanya.
Kini, saat usianya yang tak lagi muda, Ririn tetap mengabdikan diri di dunia seni dengan menjadi pelatih dan desainer kostum tari dan karnaval. Dia juga menyewakan kostum dan menyediakan jasa rias alias MUA (Make Up Artis).
“Ini istilahnya hobi menjadi cuan,” kata dia sambil tersenyum.
Sebenarnya, kata Ririn, rintisan bisnis itu sudah turun-temurun sejak 1998. Namun, pihaknya mengelola langsung usaha tersebut mulai 2002.
“Awalnya belajar secara otodidak, terus berkarya mencoba mengeluarkan desain-desain terbaik,” terangnya.
Sementara itu, Head of Micro Business Amartha area Jawa Timur, Abdul Munim Zainul, berharap usaha Ririn terus tumbuh. Dengan demikian, manfaat usaha tersebut akan lebih besar.
“Kami berharap usahanya berkembang dan tumbuh, mereka memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya, tentunya juga bisa mengajak orang lain juga untuk bergabung ke Amartha,” jelas Zainul.
Amartha, kata Zainul, ingin memberikan solusi kepada pelaku UMKM, terutama yang dijalankan oleh kaum perempuan. Sehingga dia terus memberikan literasi kepada para mitra melalui para pendamping di lapangan.
“Kami tidak ingin kehadiran kami malah menjadi masalah kami ingin menjadi solusi,” tutupnya. [rin/aje]






