Ponorogo (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo berencana mewadahi berbagai kesenian lokal yang tidak terakomodasi dalam rangkaian kegiatan Grebeg Suro.
Kesenian-kesenian ini akan ditampilkan dalam acara Hari Jadi ke-528 Kabupaten Ponorogo, yang diperingati setiap tanggal 11 Agustus.
Bupati Sugiri Sancoko menyatakan bahwa ia ingin mengkolaborasikan berbagai kesenian yang belum mendapatkan kesempatan tampil di Grebeg Suro.
“Pada perayaan hari jadi nanti, saya ingin mengkolaborasikan beberapa kesenian yang tidak bisa tampil di Grebeg Suro,” ujar Bupati Sugiri pada Selasa (06/08/2024).
Salah satu kesenian yang akan diwadahi adalah jaranan. Meskipun jaranan bukan kesenian asli Ponorogo, namun kesenian ini telah menyebar di berbagai penjuru bumi reog. Bupati Sugiri menyatakan bahwa akan dibuatkan jadwal khusus untuk pertunjukan jaranan ini.
Selain jaranan, kesenian gajah-gajahan juga akan mendapatkan perhatian khusus. Bupati Sugiri menganggap kesenian ini penting karena ada ratusan grup gajah-gajahan di Ponorogo. Ke depan, akan dibuat peraturan bupati (Perbup) yang menetapkan kesenian gajah-gajahan sebagai budaya yang wajib dilestarikan di Ponorogo.
“Kita akan mendalami filosofi kesenian gajah-gajahan ini dan menjadikannya budaya asli Ponorogo,” tambahnya.
Kesenian Reog Obyok juga akan diakomodir. Kang Giri menjelaskan bahwa Reog Obyok merupakan bentuk evolusi dari reog tradisional, dengan pertunjukan yang lebih sederhana dan jumlah pemain yang lebih sedikit. Reog Obyok biasanya ditampilkan dalam acara hajatan manten atau peringatan lainnya.
“Kita juga akan mengadakan festival Reog Obyok dalam kegiatan yang diberi nama Serenade Langit Tembaga,” pungkas Bupati Sugiri.
Dengan berbagai upaya ini, Pemkab Ponorogo berharap dapat melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas. [end/ted]






