Malang (beritajatim.com) – Belakangan ini sedang ramai beredar di media sosial soal istri eks legenda timnas Indonesia, Kurnia Meiga, yang menceritakan sisi lain sang suami. Meiga disebut sang istri sebagai peminum alkohol. Lantas, warganet pun mengaitkan kondisi penglihatan mantan punggawa Arema FC tersebut dengan kebiasaan minum alkohol.
Apakah alkohol benar-benar memperburuk penglihatan? Lantas apakah zat di dalam alkohol berdampak negatif bagi indera penglihatan? Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Aryani Vindhya Putri, Sp.M memberi penjelasan soal alkohol.
Aryani memberi edukasi secara umum terkait penurunan penglihatan yang terjadi mendadak. Menurutnya, penyakit mata dapat disebabkan oleh banyak hal. Seperti misalnya infeksi mata, trauma akibat benturan, konsumsi zat tertentu, dan bisa jadi gangguan pada saraf optik.
“Gejala yang dialami oleh pasien dengan penurunan penglihatan mendadak biasanya disertai mata merah atau tidak merah, mual, muntah, pusing, nyeri pada mata, ataupun penglihatan menjadi putih seketika. Selain itu, perlu pemeriksaan menyeluruh seperti riwayat penyakit, CT-scan otak, pemeriksaan laboratorium, dan lainnya,” ujar dokter UMM ini.
Lebih khusus, jika gangguan disebabkan konsumsi zat tertentu maka akan berbeda cara penanganan dan gejala yang dialami pasien. Semisal, orang yang meminum alkohol, satu dengan lain bisa jadi memiliki gejala atau bisa juga mengalami hal yang berbeda.
Alkohol ada yang punya kandungan metanol maupun etanol. Jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama dan jumlah yang banyak maka dapat menumpuk dan menyebabkan gangguan seperti gangguan pada mata.
Terutama alkohol oplosan yang biasanya terdapat kandungan metanol, yang memiliki sifat lebih beracun. Apalagi jika tidak diketahui kadar alkohol secara pasti maka justru dapat memperburuk efek yang dialami oleh pasien.
“Efek paling fatal dari mengkonsumsi alkohol saat zat metanol tersebut sampai menyerang saraf optik kita. Bisa jadi, hal ini akan mengakibatkan papil edema atau pembengkakan pada saraf mata dan susah untuk kembali normal dan bahkan mengancam nyawa,” tegasnya.

Jika dalam kondisi seperti ini untuk mengembalikan penglihatan seratus persen tergantung pada kondisi pasien, jumlah zat yang dikonsumsi, berapa lama zat tersebut dikonsumsi, dan kondisi atau reaksi pasien sendiri.
Aryani menilai ketika terjadi kerusakan saraf mata lanjut perlu penanganan yang dilakukan untuk mempertahankan sisa penglihatan. Misalnya dengan memberi vitamin dan memberi obat lain yang diperlukan.
“Saat masih pada fase awal penanganan yang dilakukan dapat berupa cuci darah ataupun pemberian obat secara teratur. Sementara, apabila disebabkan karena adanya kekeruhan atau pendarahan maka penanganannya dengan pembersihan dengan operasi,” kata dokter spesialis mata ini.
dr. Aryani menyarankan agar masyarakat menghindari konsumsi zat berbahaya seperti alkohol. Tidak hanya itu, beberapa zat lain seperti obat yang diminum rutin untuk penyakit tertentu, NAPZA, atau tembakau juga bisa menjadi cikal bakal penyakit pembengkakan mata.
Ia juga menghimbau agar rutin melakukan pengecekan pada mata. Apalagi bagi pasien yang memiliki riwayat penyakit lain seperti hipertensi atau TBC.
“Mereka memang diharuskan untuk mengkonsumsi obat secara rutin untuk mengatasi penyakit itu. Oleh sebab itu, wajib hukumnya bagi mereka untuk memeriksakan mata secara rutin,” katanya Aryani menutup. [dan/aje]






