Bondowoso, (beritajatim.com) – PORDI (Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia) Kabupaten Bondowoso belakangan ini menjadi perbincangan publik.
Para atlet domino Bondowoso berhasil menyapu bersih jatah juara 1-4 se-Jawa Timur pada turnamen yang digelar Pengurus Provinsi (Pengprov) PORDI Jawa Timur pada 20 Juli 2024.
Jika dalam olahraga ada istilah All Indonesian Final, dalam turnamen domino di Surabaya itu terjadi All Bondowoso Semifinal.
Panitia turnamen sampai tidak lagi mempertandingkan laga semifinal. Sebab hanya tersisa 4 tim di semifinal dan semuanya diisi oleh satu daerah yang sama.
Ketua PORDI Kabupaten Bondowoso Muhammad Taufik Zarkasih mengatakan, kejuaraan domino yang diselenggarakan di Surabaya itu menarik beberapa kontingen dari luar provinsi.
“Ada yang dari Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan dari pulau Kalimantan,” kata Taufik di sela turnamen Liga Domino Bondowoso di Pujasera, Kelurahan Kotakulon, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso, Sabtu (3/8/2024) malam.
Pada babak perempatfinal, satu tiket semifinal sudah dikantongi tim Bondowoso. Sebab dua tim asal Kota Tape saling bersua. “Kemudian tiga lainnya bertemu kontingen Surabaya, Tangerang dan Balikpapan. Nah, ketiganya juga lolos semifinal,” sebutnya.
Otomatis keempat tim dari Bondowoso melaju ke semifinal. PORDI Kabupaten Bondowoso pun memborong total hadiah Rp17 juta dengan bangga ke kampung halaman. “Di turnamen sistem ganda/pasangan itu diikuti 100 pasang atau 200 atlet. Kami menurunkan 32 pasang,” ulasnya.
Prestasi PORDI Kabupaten Bondowoso ini bukan hasil dadakan. Sebab ternyata selama ini para atlet domino Bondowoso rutin menggelar event internal.
“Kami menggelar Liga Domino internal lingkup lokal Bondowoso rutin sebulan sekali. Selain untuk mengasah skill, juga mempererat tali silaturahmi di antara para anggota,” ucapnya.
Berdasarkan data, PORDI Bondowoso memiliki 19 gardu atau sentra atlet dalam istilah perkumpulan Domino. “Setiap gardu terdiri dari 10-45 anggota yang tersebar di 7 kecamatan. Sampai saat ini, keanggotaan PORDI Bondowoso di atas 400 orang,” beber Zarkasih.
Para atlet tidak hanya diikutsertakan dalam turnamen lokal, melainkan sering bertandang ke daerah lain untuk mengenyam pengalaman.
“Salah satu tujuan utama kami adalah mengedukasi masyarakat. Kami terus menyosialisasikan bahwa domino bukanlah fasilitas perjudian, tetapi sekarang menjadi olahraga resmi yang diakui nasional,” tegasnya. [awi/suf]






