Magetan (beritajatim.com) – Apa yang terbesit ketika mendengar tentang Desa Temboro? Jelas, sudah pemandangan menyejukkan hati dengan banyaknya santriwan dan santriwati yang berlalu lalang di hampir tiap jalanan desa yang terletak di Kecamatan Karas, Magetan itu. Santriwati dengan pakaian hitam, berhijab lengkap dengan cadar, dan pria dengan gamis panjang dengan songkok.
Para santri cenderung memadati kawasan desa pada sore hari mulai setelah Ashar sampai menjelang Maghrib. Mereka keluar Pondok untuk jalan–jalan dan membeli jajanan. Atau hanya sekadar jalan–jalan saja. Santri–santri itu bakal menyemut di sekitar kawasan pertokoan di salah satu jalan Desa Temboro. Mulai dari toko makanan, bahan makanan hingga toko pakaian.
“Tapi itu sebenarnya perjalanan kembali ke pondok, karena ketika sore ada pengajian,” ungkap Muhammad Safi’, salah satu tokoh masyarakat desa setempat.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pondok-pesantren”]
Kawasan Temboro bahkan akrab dengan sebutan Kampung Madinah. Suasana desa yang lekat dengan salah satu kota di Arab Saudi itu membuatnya dijuluki demikian bahkan sejak tahun 1980-an. Tak hanya dari lokalan saja, santri di ponpes yang ada di Temboro itu juga berasal dari luar negeri. Santri–santri yang berjumlah sekitar 15.000 itu sekitar 1000 diantaranya berasal dari luar negeri.
“Dari 16 negara berbeda yakni Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Australia, Somalia, Kamboja, Brunei Darussalam, Papua Nugini, Timor Leste, Bangladesh dan Suriname,” katanya.
Ada cabang juga di seluruh dunia. Totalnya 120 cabang dan total santrinya ada 17.000. Dari sekitar 20.000 santri di seluruh pondok pesantren di Magetan, Al Fatah memegang angka paling tinggi. Bahkan, jumlah santri pun melebihi jumlah penduduk asli Desa Temboro. Pun, Safi memang mengungkap kalau penduduk yang ikut ngaji di Ponpes Al Fatah pun juga terhitung santri. “jelas, jumlahnya pasti lebih,” katanya.
Safi’ menyebut kalau santri–santri di Ponpes Al Fatah Temboro itu sebenarnya tidak boleh keluar dari ponpes. Pun, harus ada ijinnya kalau ingin keluar. Bahkan, ada aturan pakaian yang harus dikenakan. Khususnya untuk santriwati yakni harus memakai jubah hitam hijab hitam lengkap dengan cadar. Selain itu, mereka juga harus kembali tepat waktu. “Cukup ketat memang aturannya. tapi itu memang demi kebaikan santrinya juga,” katanya.
Safi mengungkap bahwa ada kegiatan lain yang dilakukan santri selain belajar ilmu agama. Ada kegiatan lain untuk mengasah fisik para santri. Yakni latihan memanah dan berkuda. Tak heran, di lingkungan ponpes juga ditemui kandang – kandang kuda. Selain itu, ada juga olahraga beladiri yang juga dipelajari oleh para santri. Diantaranya Karate, Judo, taekwondo dan kickboxing. “Santri–santri dari beberapa Negara turut membawa aliran beladiri masing – masing. Jadi, cukup beragam,” katanya.
Pun, dengan ramainya santri di sana, aktivitas warung dan pasar seakan tak pernah mati. Dia menyebut kalau hanya sekedar sepi saja yakni sekitar pukul 24.00. Itu pun masih ada lalu lalang warga setempat dan juga santri. Menariknya, aktivitas akan segera berhenti di kala adzan berkumandang. Semua langsung berhambur ke masijid setelh menutup toko – tokonya. “Itu untuk warga setempat yang membuka warung,” pungkasnya. (fiq/kun)






