Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah keprihatinan global akan ancaman kepunahan penyu laut, Bank Mandiri Taspen (Mantap) bergerak cepat menjadi garda terdepan. Dengan populasi penyu yang kian tergerus oleh berbagai faktor, mulai dari perburuan ilegal hingga kerusakan habitat, langkah nyata Mantap dalam mendukung Konservasi Penyu Sindu Dwarawati di Pantai Sindhu Sanur, Denpasar, menjadi secercah harapan bagi keberlanjutan ekosistem bahari Indonesia.
Data ilmiah menunjukkan bahwa populasi penyu laut di seluruh dunia berada dalam kondisi kritis. Dari tujuh spesies penyu yang ada, sebagian besar masuk dalam kategori terancam punah atau sangat terancam punah menurut daftar merah IUCN. Di Indonesia, ancaman terhadap penyu tak kalah serius, mulai dari penangkapan tidak disengaja, perdagangan ilegal telur dan daging, hingga pencemaran laut dan hilangnya daerah pantai sebagai lokasi bertelur. Kondisi ini membunyikan alarm keras: tanpa intervensi dan komitmen kuat dari berbagai pihak, hilangnya penyu dari lautan kita hanya tinggal menunggu waktu.
Menyadari urgensi ini, Bank Mandiri Taspen menegaskan perannya bukan sekadar sebagai entitas bisnis, melainkan sebagai bagian integral dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan. Program Corporate Social Responsibility (CSR) Keanekaragaman Hayati mereka kini berfokus pada titik-titik krusial yang membutuhkan dukungan konkret.
“Tahun lalu kami telah mendukung konservasi tukik di Banyuwangi, dan kini kami kembali ke Bali untuk memperkuat upaya serupa,” ujar Errinto Pardede, Corporate Secretary Bank Mandiri Taspen, saat menyerahkan bantuan di Sindu Dwarawati, Sabtu (17/5). Pernyataan ini bukan sekadar janji, melainkan bukti konsistensi.
Fokus bantuan kali ini, yaitu penyediaan dua unit sumur bor air asin dan mesin pompa air, mungkin terdengar teknis, namun dampaknya fundamental.
I Made Winarta, Ketua Konservasi Penyu Sindu Dwarawati, menjelaskan kendala krusial yang mereka hadapi sebelumnya.
“Pengelola konservasi harus mengambil air langsung dari laut, proses yang tidak efisien dan memakan waktu,” ungkap Winarta.
“Padahal, pembesaran tukik sangat membutuhkan perhatian khusus terhadap ketersediaan air bersih yang stabil. Dengan adanya sumur bor ini, proses pergantian air menjadi jauh lebih mudah dan dapat dilakukan kapan saja, sangat meringankan pekerjaan kami.” tambahnya.
Air bersih yang konsisten dan mudah diakses adalah kunci bagi kelangsungan hidup ribuan tukik yang lahir di pusat konservasi. Setiap tukik yang berhasil dibesarkan dan dilepasliarkan adalah investasi berharga bagi peningkatan populasi penyu di masa depan.
Langkah Bank Mandiri Taspen ini mencerminkan pemahaman mendalam bahwa masalah lingkungan tidak bisa diselesaikan sendiri. Ini adalah contoh nyata bagaimana sektor korporasi dapat menjadi motor penggerak perubahan positif, tidak hanya melalui penyaluran dana, tetapi juga dengan mendukung infrastruktur esensial yang memungkinkan upaya konservasi berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
“Kami mendorong keterlibatan masyarakat lokal dan komunitas. Pemberdayaan masyarakat dilakukan secara berkelanjutan,” tambah Errinto, menunjukkan visi Bank Mantap yang melampaui sekadar donasi. Ini sejalan dengan pilar utama program mereka: Mantap Aktif, Mantap Sehat, dan Mantap Sejahtera, yang secara tidak langsung juga terkait dengan kesehatan lingkungan.
Dengan semakin menipisnya waktu untuk menyelamatkan penyu, inisiatif seperti yang dilakukan Bank Mandiri Taspen menjadi sangat vital. Ini adalah seruan bagi lebih banyak pihak dari korporasi hingga individu untuk turut ambil bagian dalam misi penyelamatan salah satu makhluk paling ikonik di lautan kita, sebelum mereka hanya tinggal cerita.[rea]






