Surabaya (beritajatim.com) – Toxic relationship bisa saja terjadi pada siapa pun. Tentu hal ini memiliki dampak negatif pada kesehatan mental seseorang yang terlibat di dalamnya.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Margaretha mengatakan, salah satu faktor penting dalam kesehatan mental manusia adalah relasi sosial.
“Orang yang memiliki relasi sosial yang baik dengan keluarga, teman, dan rekan kerja akan lebih sehat mental. Seseorang yang berada dalam lingkaran relasi toxic akan menjadi lebih rentan mengalami stres dan persoalan psikologis,” kata Margaretha, ditulis Rabu (1/5/2024).
Menurutnya, relasi toxic juga dapat menjadikan orang menjadi pribadi yang apatis. Padahal, salah satu indikator sehat mental adalah menjadi orang yang mampu berkontribusi aktif pada masyarakat.
“Jika berada dalam relasi toxic, seseorang akan cenderung fokus pada dirinya sendiri. Orang yang hanya fokus pada diri sendiri akan sulit mencapai kesehatan mental yang sesungguhnya,” jelasnya.
Namun, ada beberapa cara untuk mengakhiri relasi toxic. Pertama, memiliki harga diri yang positif adalah kunci. Mengenali dan menghargai nilai diri akan membantu individu menghindari dampak negatif dari hubungan toxic.
Kedua, dukungan dari lingkungan sangat penting. Dukungan ini membantu korban mengembangkan kembali harga diri dan kekuatan untuk mengakhiri hubungan yang tidak sehat.
Bantuan profesional seperti psikolog atau konselor juga diperlukan untuk memberikan panduan yang sesuai dengan situasi, termasuk jika ada kebutuhan untuk menangani situasi kekerasan dalam hubungan.
Ketiga, pemulihan adalah langkah penting setelah keluar dari hubungan toxic. Korban memerlukan pendampingan dan rehabilitasi untuk mengatasi dampak mental seperti stres atau depresi. [ipl/kun]






