Malang (beritajatim.com) – Mbah Karjo bahagia. Raut wajahnya memang sudah renta, tapi senyumnya seperti remaja 17 tahun. Di ruang itu, ia memutus laju zaman. Berbagai permainan tradisional memenuhi tiap sudut ruangan.
“Saya sudah melakukan ini sejak tahun 2001 awal, sudah lama,” Mbah Karjo menjelaskan dengan senyum ramahnya. “Saya yakin di dalam laju zaman anak-anak tetap bahagia dengan permainan tradisional,”
Sore itu, terlihat tiga orang anak berada di pelataran rumah mbah Karjo. Adi, Rian, dan Surya mendatangi rumah petak berukuran 5 X 6 itu untuk bermain dakon. Rumah itu berada di gang sempit, tepatnya di jalan Simpang Gajayana nomor 16C Kota Malang.
“Mbah Karjo biasanya memberi saya serangga mainan yang terbuat dari bekas tali kardus. Bentuknya mirip sekali dengan semut raksasa,” kata Adi, salah seorang anak yang berusia 6 tahun.
Karjo bukan nama asli, julukan itu diperolehnya karena pernah membuat kartu ramalan dengan tokoh punakawan Jawa. Karjo alias Kartu Jowo, orang-orang menjulukinya hingga hari ini.
Ia bernama asli Syamsul Subakri , usianya kini 56 tahun. Di kartu tanda penduduknya tertulis pekerjaan sebagai seniman.
“Saya dedikasikan hidup saya untuk bermain dengan anak-anak. Meski sudah berumur seperti sekarang saya tetap bermain dan terus bermain bersama mereka,” ungkap Mbah Karjo sembari menunjuk tiga orang anak di pelataran rumahnya.
Ia menyelipkan semangat konservasi dalam upayanya merawat permainan tradisional. Konsep permainan ala mbah Karjo adalah bermain sambil belajar.
“Kalo bicara permainan tradisional semua itu ada pembelajarannya. Misalnya petak umpet, itu mengajarkan kejujuran, lalu dakon mengajarkan anak untuk beradu strategi,”
Upayanya dimulai ketika dulu ia terlibat di salah satu lembaga yang menyediakan buku bacaan untuk anak. “Aku dulu bawa mobil keliling yang isinya buku – buku anak,”
Awalnya ia membuat boneka dari kresek yang diberi nama Mat Kresi, berbentuk boneka yang dimainkan untuk dongeng. Kemudian dikembangkan dengan membuat permainan hewan dari serabut kelapa bentuk.
“Kita ngomongnya konservasi, dalam hal konservasi mereka (anak-anak) perlu diberi pemahaman dengan mainan karena itu dekat dengan mereka. Kalau kita buat mainan kecil seperti serangga pesannya ya berarti ada hewan kecil di sekeliling kamu jangan diganggu. Kalau tidak merugikan jangan dibunuh karena dia juga punya fungsi di alam semesta,”
Baca Juga: Buru PAD, Pemdes Gedog Wetan Malang Siap Bangun Pasar Hewan
Menurutnya, permainan tradisional juga berhubungan dengan para pendiri bangsa Indonesia. Dahulu ketika organisasi masyarakat berbasis sekolah, organisasi besar seperti NU, Muhammadiyah dan yang lain mereka punya gerakan kepanduan atau scouting.
“Oleh Ir. Soekarno segala jenis kepanduan dilebur menjadi satu bernama Pramuka yang kemudian diberi muatan. Berangkat dari keprihatinan orang dewasa, pramuka lalu dikembangkan dengan adanya permainan yang mengasah basic life skill,”
Melalui pramuka, para peserta menjadi terasah karena ada berbagai muatan dalam permainan itu, baik berupa kenegaraan, jiwa kesatria, leadership, dan lain lain. “Dulu saya merasa, inilah tempat saya , di sini saya berkembang. Ke belakangnya saya tidak lagi di sana karena formal akhirnya saya ambil sisi lain sampai sekarang ini,” kenang pria berambut gondrong itu.
Selama 22 tahun, Mbah Karjo tidak pernah mendapat bantuan dana dari pemerintah. Namun itu bukan masalah. Mbah Karjo tetap merasa bahagia karena sering dilibatkan untuk mengisi acara yang pesertanya anak-anak.
“Seperti kemarin di Kayutangan, saya ajak anak-anak bernyanyi. Aku juga tambahi juga olah gerak karena dalam permainan anak ada lagu yang dilakukan dengan gerak. Kemudian aku ajak mereka bermain olah ketangkasan,”
Suatu hari, Mbah Karjo menceritakan, ia pernah ditanya mengapa tetap bertahan dengan permainan tradisional meski sudah banyak permainan modern. Ia menjawab dengan ramah, tidak semua hal harus ikut zaman.
“Aku tidak anti dengan perkembangan zaman, aku hanya mengambil celah agar anak-anak bisa memilih. Alat modern itu sudah ajak sejak dulu, seperti game board, nintendo, playstation 1 sampai 5, sekarang malah ada gadget. Toh tetap saja, mereka butuh permainan tradisional,”

Menurut Karjo, permainan lawas sebenarnya melatih reflek. Berbeda dengan permainan modern yang ruang lingkupnya sempit. “Permainan modern membuat anak tidak lagi aware dengan lingkungan sekitar,” lanjutnya.
90% permainan tradisional, mengandung unsur taruhan, dalam hal ini tidak bisa disebut sebagai judi. Bagi mbah Karjo, permainan tradisional itu menjadi cara untuk melatih kemampuan dasar anak.
“Kita latih kemampuan basic life skill mereka dengan mengajari bahwa dalam permainan itu hanya ada tiga kemungkinan, menang, kalah, atau seri, semua tentu ada konsekuensinya. Kita ajari mereka untuk fair play dan berjiwa ksatria,”
“Yang tidak saya ajarkan kepada mereka mengadu benda hidup, kalau mengadu benda mati boleh lah. Adu ketangkasan lempar batu, main gasing, mainan yang memang kompetitif,”
Mbah Karjo merasa beruntung, sebab tidak melulu berjuang sendiri. Ia punya komunitas bermain walau lingkupnya hanya tingkat kecamatan. Namun, upaya mbah Karjo terus meluas seiring dengan datangnya berbagai undangan untuk mengisi workshop dari lembaga pendidikan.
“Saya sering mengisi acara, setiap ngisi pasti saya bawa ini untuk diberikan pada anak-anak” katanya menunjukkan kerajinan dari plastik bekas yang disulapnya jadi mainan semut, kupu, dan belalang.
Mbah Karjo adalah bukti bahwa laju zaman bisa diputus. Ia tetap bertahan dengan permainan tradisional, meskipun juga tidak menutup diri pada perubahan.
“Saya tidak berusaha mengganti permainan modern apalagi menyaingi game di gawai. Saya hanya ingin orang tua ingat, jika orang tua ingin anaknya tidak kecanduan gadget, maka ya berikan alternatifnya, jangan hanya melarang saja,”
Keteguhan Mbah Karjo untuk terus hidup dengan bermain bukan tanpa alasan. Sebab, ia memegang teguh sebuah aforisme yang dibuatnya sendiri.
“Permainan kuncinya hanya satu, bermainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan pernah bermain-main dengan hal yang sungguh-sungguh,” katanya sembari tersenyum, matanya berkaca-kaca. (dan/ted)






