Probolinggo (beritajatim.com) – Tampuk kepemimpinan DPC PDI Perjuangan Kota Probolinggo resmi berganti. Wajah baru kini memimpin partai banteng moncong putih di tingkat kota, menandai pergeseran karakter kepengurusan dari dominasi politisi menuju kombinasi aktivis dan kalangan profesional.
Berdasarkan hasil konferensi cabang (konfercab) yang kemudian dilantik di Surabaya, posisi Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Probolinggo kini dijabat Tommy Wahyu Prakoso. Adapun Sukardi Mitho sebagai Sekretaris dan H. Sahri Trigiantoro sebagai Bendahara.
Ketiganya menggantikan kepengurusan sebelumnya yang dikomandoi Haris Nasution (Ketua), Rudi Ghofur (Sekretaris), dan Rukin (Bendahara).
Dikonfirmasi melalui pesan singkat, Haris Nasution yang akrab disapa Cakyon menegaskan bahwa susunan pengurus baru tersebut merupakan hasil musyawarah mufakat yang telah melalui mekanisme partai.
“Sudah melalui keputusan dalam konfercab,” ujarnya singkat, Minggu (21/12/2025) malam.
Ia menambahkan, penetapan kepengurusan dilakukan melalui forum resmi dan kesepakatan bersama kader, bukan keputusan sepihak.
Sementara itu, Sekretaris DPC terpilih Sukardi Mitho mengatakan, pihaknya masih dalam perjalanan kembali ke Probolinggo usai mengikuti pelantikan di Surabaya. Terkait arah dan program kerja ke depan, Sukardi menyebut masih akan dibahas lebih lanjut.
“Masih akan ada forum lanjutan, termasuk breakdown pembentukan kepengurusan yang lebih lengkap,” kata Sukardi.
Pergantian kepemimpinan ini menarik perhatian karena komposisi pengurus inti diisi figur dengan latar belakang pergerakan dan profesional, berbeda dari periode sebelumnya yang didominasi politisi aktif.
Ketua DPC Tommy Wahyu Prakoso dikenal sebagai pengusaha di sektor transportasi. Sekretaris Sukardi Mitho merupakan aktivis kawakan yang lama berproses di organisasi kemahasiswaan GMNI. Sedangkan Bendahara H. Sahri Trigiantoro dikenal sebagai tokoh publik yang berangkat dari dunia profesional, khususnya industri garmen.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan kepengurusan sebelumnya yang diisi politisi senior, seperti Haris Nasution dan Rudi Ghofur, yang telah lama malang melintang di dunia politik lokal, terutama sebagai anggota DPRD Kota Probolinggo.
Masuknya unsur profesional dan aktivis ke jajaran pucuk pimpinan DPC PDI Perjuangan Kota Probolinggo dinilai menjadi sinyal perubahan arah organisasi, sekaligus ujian apakah kombinasi tersebut mampu menjawab tantangan konsolidasi partai dan dinamika politik lokal ke depan. (ada/but)






