Pacitan (beritajatim.com) – Akses utama penghubung Pacitan–Ponorogo lumpuh total setelah tebing di Kecamatan Tegalombo mengalami longsor dan menutup badan jalan pada Jumat (27/2/2026). Material berupa tanah dan batu menutup ruas jalan di dekat Jembatan Penak, Desa Kemuning, sehingga kendaraan tidak dapat melintas dari dua arah secara total.
Kepala UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Pacitan Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur Budi Hari Santoso mengatakan longsor terjadi di 11 titik sepanjang jalur tersebut. Namun, hanya terdapat satu titik lokasi yang menyebabkan akses lalu lintas tertutup sepenuhnya oleh timbunan material.
“Telah terjadi lunturan tebing jalan di ruas Pacitan–Ponorogo pada 11 titik lokasi. Tapi yang menutup total adalah satu lokasi, yaitu di kilometer 242+900 dekat Jembatan Penak, Desa Kemuning, Kecamatan Tegalombo,” ujarnya saat dikonfirmasi Jumat (27/2/2026).
Pihak UPT PJJ langsung mengerahkan sejumlah alat berat untuk mempercepat proses pembersihan material longsor di lokasi kejadian. Langkah cepat ini diambil agar mobilitas masyarakat antara Kabupaten Pacitan dan Ponorogo bisa segera pulih kembali.
“Dua unit loader sudah meluncur ke lokasi untuk mengatasi agar jalan bisa segera terbuka kembali,” jelas Budi Hari Santoso. Ia menambahkan bahwa bencana longsor ini dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang terjadi secara masif dalam beberapa pekan terakhir.
Hingga Jumat siang, proses pembersihan material tanah dan batu masih terus berlangsung secara intensif oleh petugas terkait di lapangan. Petugas terus berupaya keras menyingkirkan material yang menghambat kelancaran arus lalu lintas di kawasan perbukitan tersebut.
Saat ini separuh badan jalan telah berhasil dibuka sehingga kendaraan mulai dapat melintas secara perlahan dan bergantian. Arus lalu lintas diberlakukan sistem buka tutup untuk sementara waktu sambil menunggu proses pembersihan selesai sepenuhnya dan kondisi jalan aman.
Petugas mengimbau pengguna jalan untuk tetap waspada dan berhati-hati saat melintas di jalur Pacitan–Ponorogo serta mengikuti arahan personel di lapangan. Hal ini sangat penting karena potensi longsor susulan masih mungkin terjadi mengingat kondisi struktur tanah di wilayah tersebut masih labil. [tri/beq]






