Bondowoso, (beritajatim.com) – Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan elpiji di wilayah Bondowoso saat ini mengalami kendala serius.
Ketua DPC Hiswanamigas Area Besuki, Ikbal Wilda Fardana, mengungkapkan bahwa keterlambatan distribusi sudah terjadi bahkan sebelum penutupan jalur Gumitir, tepatnya pasca kecelakaan kapal di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi beberapa waktu lalu.
Menurut Ikbal, dampak dari kecelakaan tersebut menyebabkan terbatasnya armada kapal penyeberangan yang beroperasi, sehingga menimbulkan kemacetan parah di jalur Banyuwangi–Situbondo.
Hal ini turut memengaruhi kelancaran distribusi BBM karena Terminal BBM (TBBM) Banyuwangi berlokasi sangat dekat dengan Pelabuhan Ketapang.
“Proses pengambilan BBM jadi terganggu karena truk-truk kami terjebak macet. Distribusi tidak bisa lancar,” ungkap Ikbal pada BeritaJatim.com, Minggu (27/7/2025).
Mengantisipasi krisis yang semakin memburuk, pihak Hiswanamigas bersama Pertamina telah mengambil sejumlah langkah akseleratif.
Salah satunya adalah menambah jumlah armada pengangkut dan mengalihkan jalur distribusi dari TBBM Banyuwangi ke TBBM Surabaya dan Malang.
“Kami tak bisa hanya menambah armada. Kalau kemacetan di Ketapang tidak segera terurai, semua usaha akan sia-sia,” tegasnya.
Ikbal berharap pihak-pihak terkait seperti KSOP (Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan) serta ASDP segera mengambil langkah konkret untuk mengurai kemacetan dan mempercepat operasional kapal penyeberangan.
“Kalau tidak segera ditangani, masyarakat yang akan paling merasakan dampaknya. Mereka akan kesulitan mendapatkan BBM untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi alarm bagi seluruh stakeholder transportasi dan energi untuk meningkatkan koordinasi dalam mengantisipasi gangguan logistik, terutama di wilayah yang sangat bergantung pada distribusi antarpulau seperti Bondowoso. [awi/aje]






