Malang (beritajatim.com) – Sebanyak 16 atau seluruh Puskesmas di Kota Malang dipastikan bisa melayani voluntary counseling and testing (VCT) untuk mendeteksi dini kasus human immunodeficiency virus (HIV). Layanan ini dimasifkan untuk menjaring masyarakat yang merasa memiliki gejala HIV.
Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif mengatakan, layanan untuk mendeteksi dini demi mencegah penularan secara masif. 16 Puskesmas itu tersebar di 5 kecamatan dengan rincian Klojen 3 Puskesmas, Blimbing 4 Puskesmas, Sukun 3 Puskesmas, Lowokwaru 3 Puskesmas, dan Kedungkandang 3 Puskesmas.
“Kami sudah melakukan VCT melalui 16 puskesmas untuk menjaring masyarakat yang merasa bahwa dirinya memiliki resiko (HIV),” kata Husnul, Kamis (9/7/2026).
Dari catatan Dinkes Kota Malang, dalam rentang periode Januari sampai Mei 2026 terdapat 97 kasus HIV. Dengan rincian, 78 persennya merupakan laki-laki dan 22 persen perempuan. Dari 97 kasus 35 persen diantaranya disebabkan oleh hubungan laki-laki seks dengan laki-laki atau LSL sisanya wanita pekerja seks (WPS), waria, penggunaan alat suntik bergantian, dan ibu hamil.
“Adanya kasus itu berarti ada sumber yang harus kami cari, begitu ketemu kami sudah bisa memotong rantai penularan,” ucapnya.
Secara teknis, jika seseorang masuk kategori Orang Dengan HIV (ODHIV). Seseorang itu langsung mendapat tindakan berupa pemberian perawatan, dukungan, dan pengobatan (PDP). Mereka akan dipantau agar tertib kontrol kesehatan termasuk memastikan ketepatan waktu minum obat antiretroviral (ARV) untuk menekan pertumbuhan virus pada tubuh.
“HIV memang harus dilakukan pengobatan seumur hidup dan pada saat pemeriksaan enam bulan sekali, itu ada yang namanya viral load di Puskesmas Dinoyo. Kalau viral loadnya semakin kecil berarti salah satu indikator keberhasilan di dalam pengobatan,” ujar Husnul. (luc/but)






