Surabaya (beritajatim.com) – Setiap tahun, sebanyak 22 hingga 40 ribu lulusan perawat harus menganggur. Hal itu terjadi lantaran hanya ada sekitar 20 persen lulusan saja yang terserap di dunia kerja.
Di Jawa Timur sendiri, jumlah perawat hingga saat ini tercatat mencapai 98.992 orang. Mereka tersebar di masing-masing kabupaten/kota. Jumlah tersebut rupanya juga dinobatkan menjadi yang terbanyak di Indonesia.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Timur Prof Dr Nursalam M Nurs (Hons) mengatakan, bahwa menyikapi itu maka diperlukan adanya pusat-pusat pelatihan untuk menyiapkan profesionalisme dan kompetensi perawat.
Nursalam menyebutkan, selain dipersiapkan untuk ditempatkan di negara yang kekurangan perawat, ke depan juga harus dipersiapkan mengembangkan program Ponkesdes atau Pondok Kesehatan Desa di Jawa Timur.
Di sisi lain, lanjut Nursalam, para perawat juga didorong agar memiliki kreatifitas di era society 5.0 seperti saat ini. Pasalnya, para lulusan harus mampu melakukan praktik secara berkelompok maupun mandiri.
“Dengan meningkatkan kemampuan, setiap perawat memiliki peluang membuka praktik sendiri,” ujar Nursalam usai Pengambilan Sumpah Jabatan 85 Perawat Baru di Surabaya, ditulis Rabu (18/01/2023).
[berita-terkait number=”4″ tag=”perawat”]
Sebagai informasi, sebanyak 85 tenaga perawat baru di Jawa Timur diambil sumpah jabatannya oleh DPW PPNI Jawa Timur. Para lulusan tersebut diminta agar dapat mematuhi dan menjaga kode etik keperawatan.
Setidaknya ada lima pilar yang terdapat dalam kode etik keperawatan tersebut. Antara lain perawat dan klien, perawat dan masyarakat, perawat dan teman sejawat, kemudian perawat dan profesi.
Nursalam menekankan agar para lulusan itu bertindak adil selama memberikan pelayanan kesehatan. “Selain itu, juga harus bijak dalam bermedia sosial,” ujar Nursalam. [ipl/but]






