Jember (beritajatim.com) – Ada 25 kasus positif campak yang ditemukan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Setiap bulan terjadi peningkatan kasus pada 2026.
Dari 107 sampel suspek campak yang tersebar di 50 puskesmas yang dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya, 25 sampel positif.
“Dua puluh lima sampel itu sebenarnya kasus yang sudah lama. Ini yang kemudian jadi kekagetan, karena terjadi peningkatan kasus,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Jember Rita Wahyuningsih, Selasa (5/5/2026).
Menurut Rita, sebagian sampel tersebut sudah dikirimkan pada Februari 2026. Namun karena BBLKM kehabisan reagen, maka hasil pemeriksaan sejumlah sampel baru bisa dilakusanakan dan dilansir baru-baru ini.
“Sejauh ini kalau ada kasus, walau terduga, sudah langsung dilakukan tata laksana dan penguatan program imunisasi, sehingga sampai hari ini pun kasus yang sakit semuanya sembuh” kata Rita.
Rita mengatakan, sesungguhnya campak bisa sembuh sendiri. “Terkecuali terdapat peningkatan komplikasi atau terinfeksi kasus lain,” katanya.
Kasus positif terbanyak ditemukan di Puskesmas Ledokombo dan Puskesmas Panti. “Tapi untuik yang 25 kasus ini tersebar, Peningkatan positifnya lebih dari dua kasus, ada di Puskesmas Mayang dan Puskesmas Sumberjambe,” kata Rita.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Jember Sunarsi Khoris tidak menyangka campak merebak sampai sekarang. “Kami ingin data valid. Kalau penyakit kita remehkan, maka akan merebak. Tidak semua di masyarakat sadar dengan imunisasi ini,” katanya.
“Kendati pemerintah sudah gencar mengampanyekan imunisasi, termasuk di sekolah, ternyata kesadaran masyarakat perlu ditumbuhkan,” kata Sunarsi.
Sunarsi sendiri ragu dengan data yang disajikan Dinkes Jember. “Validitas data sangat urgen untuk bisa membahas dan menindaklanjuti,” katanya. Rencananya Komisi D akan kembali memanggil Dinas Kesehatan dan puskesmas untuk membicarakan hal itu lebih lanjut. [wir/suf]






