Jember (beritajatim.com) – Nelayan di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, kesulitan mengangkut ikan hasil melaut dari kolam labuh ke tempat pelelangan ikan. Ada nelayan yang bekerja di 300 unit kapal yang terdampak.
Warga mendesak perbaikan jalan kolam labuh yang rusak karena abrasi air laut. Muhammad Jupri, warga Puger, mengatakan, ada abrasi di dua titik yang perlu ditangani, yakni di Dusun Gumukrejo, Desa Puger Kulon, dan di kawasan tempat pelelangan ikan (TPI). “Lama-kelamaan jalan ini habis. Kalau jalan ini habis (terkikis), enggak bisa lewat pengangkut ikannya, yerus lewat mana,” katanya, Rabu (18/2/2026).
Penambahan tanah pernah dilakukan di jalan dekat TPI dengan tinggi setengah meter, panjang 100 meter, dan lebar lima meter. Namun saat ini ketinggian jalan sudah berkurang.
Ahmad Dahlan, warga yang bekerja sebagai pengangkut ikan, mengatakan, selain bergelombang, jalan yang menjadi akses transportasi lumayan sempit. “Kalau air laut pasang, kami sulit beraktivitas. Nelayan sulit menurunkan ikan. Sudah dua kali Tossa pengangkut ikan, saya dan teman saya, nggelimpang (terbalik) di sana,” katanya.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun Dahlan mengalami kerugian tak sedikit. “Ikannya rusak dan enggak bisa dipakai. Kami sebagai pengamgkut ikut bertanggung jawab untuk mengganti kerugian,” kata Dahlan.
Saat air laut pasang, Dusun Muara Baru, Desa Puger Kulon, terdampak. “Air meluap ke dusun. Apalagi musim banjir. Ketinggian air pasang saja pas tidak musim banjir saja setengah meter. Apalagi sekarang ini musim banjir sampai satu meter,” kata Dahlan.
Air pasang terjadi setiap bulan pada tanggal 13 hingga 15. “Itu pasti airnya pasang, karena pendeknya jalan itu tadi,” kata Dahlan.
Dahlan berharap pemerintah daerah bertindak cepat untuk membuat plengsengan agar dinding jalan tak tergerus air, dan warga tidak terus-menerus terdampak air pasang. “Biar air tidak meluap ke dusun dan kami sebagai pengangkut ikan enak, nelayan menurunkan ikan juga biar enak,” katanya. [wir]






