Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 menjadi titik pemulihan dukungan politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jawa Timur. Partai ini memenangkan pertarungan di Jatim setelah terperosok ke jurang kemunduran di Pemilu 2009.
Di bawah pimpinan Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum DPP PKB dan Abdul Halim Iskandar (kakak Muhaimin) yang dipercaya memegang PKB Jatim, partai ini berhak atas 20 kursi parlemen. Diikuti PDIP dengan 19 kursi, disusul Partai Gerindra 13 kursi, dan Partai Golkar 11 kursi.
Secara kuantitatif, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang memperoleh 3.523.434 suara atau 18,8 persen. Diikuti posisi ketiga Partai Gerindra dengan raihan suara 2.457.966 (13,1 persen), selanjutnya Partai Demokrat meraih 2.340.170 suara (12,5 persen), serta Partai Golkar 1.912.474 suara (10,2 persen).
Posisi keenam dan ketujuh masing-masing PPP dengan raihan 1.176.186 suara (6,3 persen) dan PAN yang memperoleh 1.147.319 suara (6,1 persen). Berikutnya, PKS dengan raihan 974.388 suara (5,2 persen). Di posisi sembilan, Partai Nasdem berhasil meraih 938.933 suara (5 persen), sekaligus mengungguli Partai Hanura yang hanya meraih 747.244 suara (4 persen). Diikuti dua posisi terakhir yakni PBB dengan raihan 220.313 suara (1,2 persen) serta PKPI dengan 104.379 suara (0,6 persen).
Berdasarkan rekapitulasi yang sudah diselesaikan di tingkat provinsi, PKB unggul di 16 kabupaten/kota meliputi Sidoarjo, Kota Pasuruan, Kabupatan Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Jember, Trenggalek, Jombang, Madiun, Bojonegoro, Tuban, Gresik, Lamongan, Pamekasan, dan Sumenep.
PDIP sukses menang di 16 daerah yaitu Kota Surabaya, Kota Probolinggo, Banyuwangi, Lumajang, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, Tulungagung, Magetan, Ngawi, Kota Madiun, Kota dan Kabupaten Mojokerto.
Sebanyak enam (6) kabupaten dan kota lainnya dibagi rata tiga partai politik: Partai Gerindra menang di Nganjuk dan Bangkalan. Partai Demokrat menang di Pacitan dan Sampang, dan Partai Golkar unggul di Ponorogo serta Kota Kediri.
Dengan kemenangan di Pemilu 2014 ini, PKB mencatatkan sejarah sebagai partai dengan frekuensi kemenangan tertinggi di Jatim, yakni sebanyak tiga kali: Pemilu 1999, 2004, dan 2014. Realitas tersebut menegaskan bahwa teritori Jatim menjadi kandang terbesar dukungan politik kepada partai ini secara nasional.
Fakta tersebut sekaligus mencatat bahwa kekuatan politik komunitas Islam Tradisional (NU) tetap dominan di Jatim vis a vis kekuatan aliran politik lainnya. Sekali pun sejak Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Kabupaten Situbondo, Jatim, NU menegaskan bahwa telah keluar dari politik praktis dan tak memiliki relasi struktural dengan kekuatan politik mana pun.
Fenomena politik mengejutkan terjadi di Pemilu 2019 di Jatim. Kekuatan kaum Nasionalis Soekarnois (PDIP) untuk kali pertama menang di provinsi ini. Fakta sejarah politik ini merupakan yang pertama sejak Indonesia menggelar pemilu di tahun 1955.
Merujuk hasil rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara pileg untuk Provinsi Jawa Timur (Jatim) di KPU Pusat di Jakarta, PDIP meraih suara terbanyak, disusul PKB di urutan kedua. Berdasarkan hasil penghitungan suara partai dan caleg di seluruh dapil di Jatim, PDIP menempati urutan pertama dengan 4.319.666 suara, disusul PKB dengan 4.198.551 suara. Posisi ketiga perolehan suara terbanyak ditempati Partai Gerindra dengan 2.408.607 suara.
Partai Golkar di posisi keempat dengan 2.256.056 suara, Partai NasDem dengan 2.190.169 suara di urutan kelima, dan Partai Demokrat dengan 1.841.145 suara di tempat keenam. Selanjutnya, PPP dengan 1.192.976 suara, PAN dengan 1.209.375 suara, dan PKS dengan 862.840 suara.

Pergeseran kekuatan politik di Jatim merujuk hasil Pemilu 2019 diperkirakan terus berlangsung dan besar kemungkinan terjadi di Pemilu 2024. Sejumlah lembaga survei kredibel menempatkan PDIP berpeluang besar memenangkan kembali Pemilu 2024 di Jatim.
Fakta politik berdasar hasil survei itu bisa dipahami mengingat PDIP telah mengukuhkan sebagian besar kader dan atau figur yang diusungnya sebagai kepala daerah di kabupaten/kota di Jatim. Ada sejumlah kabupaten atau kota di Jatim yang semula dipimpin kader partai lain, kini dipimpin figur politikus PDIP. Misalnya, Kabupaten Probolinggo setelah Bupati Puput Tantriana Sari dan suaminya, Hasan Aminuddin, yang juga anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, kena operasi tangkap tangan (OTT) KPK.
Selain itu, Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat, yang diusung PKB, ditetapkan sebagai tersangka setelah ditangkap dalam operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri di Nganjuk, Jawa Timur, Senin (10/5/2021). Posisinya digantikan Wakil Bupati Marhaen Djumadi (PDIP) yang kemudian ditetapkan sebagai Bupati Nganjuk definitif.
Di 2020, Sugiri Sancoko, mantan politikus Partai Demokrat yang pernah terpilih sebagai anggota DPRD Jatim, memenangkan pertarungan politik di Pilkada Kabupaten Ponorogo atas Ipong Muchlissoni yang dijagokan Partai NasDem dan sejumlah partai lainnya. Di Pilkada 2020 tersebut, Sugiri diusung PDIP dan sejumlah partai lain. Kemenangan Sugiri Sancoko ini menambah kabupaten/kota di Jatim yang dipimpin kader atau tokoh PDIP.
Jauh sebelum itu, PDIP telah menempatkan kader terbaiknya sebagai Bupati Trenggalek, Bupati Ngawi, Bupati Tulungagung, Bupati Kediri, Bupati Malang, Wali Kota Blitar, Bupati Malang, Wali Kota Batu, Wali Kota Surabaya, Bupati Banyuwangi, Kabupaten Sumenep, dan sejumlah kabupaten dan kota lainnya di Jatim.
Dominasi politik PDIP di kawasan Mataraman Jatim, wilayah politik yang dipengaruhi kultur Jawa dari Surakarta dan Yogyakarta yang kental, terus berlangsung sejak Pemilu 1955 sampai Pemilu 2019. Di sub-kultur Mataraman tersebut PDIP terus merawat dan mengonsolidasikan jejaring politiknya secara konsisten.
Walaupun demikian, di sejumlah kawasan Mataraman, partai lain di luar PDIP tetap berusaha menempatkan kader terbaiknya sebagai kepala daerah, seperti Kabupaten Pacitan, Kabupaten Magetan, dan Kabupaten Madiun yang dimenangkan kader dan atau calon yang diusung Partai Demokrat dan sejumlah partai lainnya sebagai pemenang. Untuk Kota Madiun, pasangan Maidi-Inda Raya yang diusung koalisi lima parpol: PDIP, Partai Demokrat, PKB, PAN, dan PP menang atas dua rival politiknya di Pilkada 2018.
Artinya, di kawasan Mataraman Jatim, rivalitas politik paling keras berlangsung antar-partai yang mengusung kredo ideologi politik Nasionalisme, terutama antara PDIP dengan Partai Demokrat. PDIP leading di Kota Blitar, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Ngawi. Sedang Partai Demokrat unggul di Kabupaten Pacitan, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Magetan.
Wilayah sub-kultur Pendalungan dan Madura, yang kawasannya dikenal sebagai Tapal Kuda, dominasi PKB tak terelakkan. PKB merebut jabatan Bupati Pasuruan, Wali Kota Probolinggo, Wali Kota Pasuruan, dan Bupati Lumajang.
Untuk partai lainnya, seperti PPP dan PDIP merebut posisi Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso dengan figur yang diusung KH. Salwa Arifin dan H. Irwan Bachtiar Rahmat. Di Kabupaten Situbondo, pasangan Karna dan Khoirani (Karunia) memenangkan pilkada di daerah ini, dengan 8 parpol sebagai pengusungnya: PPP, Partai Gerindra, PDIP, Partai Demokrat, PAN, Perindo, PBB, dan PSI. Sedang Bupati dan Wakil Bupati Jember terpilih, Hendy Siswanto dan Muhammad Balya Firjaun diusung lima partai: Partai NasDem, Partai Gerindra, PKS, PPP, dan Partai Demokrat.
Di kawasan Madura Kepulauan, dari empat kabupaten di wilayah tersebut, PKB mengukuhkan kemenangan pilkada di dua kabupaten: Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Pamekasan. Perebutan jabatan Bupati Sumenep dimenangkan Achmad Fauzi yang diusung PDIP dan di Kabupaten Sampang Slamet Junaidi dan Abdullah Hidayat yang memenangkan pilkada daerah ini dan diusung Partai Golkar, PPP, Partai NasDem, PDIP, dan PKS.
Perubahan dan dinamika politik di Jatim terus berlangsung. Dinamika politik itu membuka peluang partai dengan latar aliran ideologi tertentu memenangkan pertarungan politik di pemilu. Dari lima kali pemilu sepanjang Reformasi, partai dengan kredo politik yang memiliki relasi historis, kultural, dan psiko-politik yang kental dengan komunitas Islam Tradisional (NU) yakni PKB telah memenangkan tiga kali pemilu di Jatim.
Fakta politik Pemilu 2009 dan 2019 memperlihatkan, aliran ideologi Nasionalis Soekarnois (PDIP) dan Nasionalis Religius (Partai Demokrat) juga pernah memenangkan kontestasi politik pemilu di Jatim. Komunitas Islam Tradisional dan Nasionalis Religius adalah dua kekuatan strategis dalam lanskap politik Jatim kontemporer.
Potret demikian tak berbeda jauh dengan fakta politik hasil Pemilu 1955, pemilu pertama kali setelah Indonesia merdeka. Saat itu Partai NU (Islam Tradisional) dan Partai Nasional Indonesia/PNI (Nasionalis Soekarnois) adalah dua pilar penting kekuatan politik di Jatim. Setelah itu, posisi ketiga ditempati PKI (Sosialisme Ekstrim) dan Partai Masyumi (Islam Modernis).
Kredo aliran politik yang hidup dan melembaga di Jatim tak mengalami pergeseran secara ekstrem. Yang berubah adalah baju partai pengusungnya. Dulu Partai NU kini PKB. Dulu PNI saat ini PDIP dan seterusnya. [air/habis]
Ainur Rohim, Penanggung Jawab beritajatim.com






