Surabaya (beritajatim.com) – Relawan Kiai Muda Jawa Timur kembali menggencarkan serangkaian program pelatihan dalam mewujudkan masyarakat desa yang sejahtera dan berdaulat secara ekonomi.
Dalam kesempatan kali ini, relawan pendukung Ganjar itu berkolaborasi dengan Kelompok Pengembang Bioselulosa (KPB) untuk mengajak puluhan kiai musala, majelis taklim, dan santri memanfaatkan bahan baku nata de coco untuk diolah menjadi bahan baku yang dapat dikonsumsi.
Koordinator Wilayah (Korwil) Kiai Muda Jatim, Gus Ali Baidlowi mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan sebagai sebuah solusi atas persoalan ekonomi yang dihadapi oleh kebanyakan masyarakat di wilayah tersebut.
BACA JUGA:
Kiai Muda Gelar Pelatihan Budi Daya Ikan Air Tawar
“Kami banyak mendengar keluhan warga Trenggalek di mana posisi mereka berada di ambang garis kemiskinan. Tentu, hal ini akan bermanfaat untuk bisa menambah nilai ekonomi, terutama untuk beberapa majelis taklim dan kiai yang selama ini memiliki kesulitan ekonomi atau pun menghidupi dapurnya,” kata Gus Ali di sela acara bertajuk ‘Pelatihan Pembuatan Nata De Coco’ di Pondok Pesantren Lil Muttaqin, Kecamatan Pagolan, Kabupaten Trenggalek.
Ali menjabarkan, proses pembuatan nata de coco relatif sangat terjangkau dan mudah ditemui oleh masyarakat setempat. Dengan demikian, Ali berharap masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut tertarik untuk berkecimpung dalam unit usaha tersebut.
“Karena bahan yang diperlukan juga sangat mudah, dari limbah beras, ketela pohon atau singkong dan juga dari limbah air kelapa. Semoga ini bisa memberikan gambaran kepada mereka untuk terjun dalam usaha pembuatan nata de coco ini,” lanjut Ali, Senin (15/5/2023).
BACA JUGA:
Pertahankan Sektor Pertanian Sebagai Andalan, Kiai Muda Berikan Edukasi
Dia menjelaskan, Kiyai Muda Jatim berkomitmen untuk melakukan pendampingan produk tersebut hingga masyarakat Trenggalek bisa menjalankan usaha tersebut secara mandiri dan berkelanjutan. “Mereka bisa menduplikasi dari pembuatan nata de coco atau pun bekerjasama dengan KPB untuk memasok bahan baku tersebut, karena kebutuhan tiap bulannya juga kan masih kurang,” terangnya.
Ditanya soal antusias, kegiatan tersebut tentunya didukung oleh masyarakat setempat dan pengambilannya dilandasi atas usulan warga setempat yang tentunya menjadi momen konsolidasi masyarakat dengan KPB, selaku pengembang nata de coco di wilayah sekitar.
“Pelatihan pembuatan nata de coco alhamdullilah antusiasnya luar biasa, InshaAllah dengan adanya kegiatan ini bisa berjalan dengan baik, kita selalu terbuka lebar untuk para warga yang mau bertanya-tanya melalui pesan Whatsapp,” tukasnya.
BACA JUGA:
Perkuat Karakter Pemuda, Kiai Muda Gelar Pertunjukan Pencak Silat
Ketua Kelompok Pengembang Bioselulosa, Widi Sasmito mengungkapkan, rasa optimisnya terhadap masyarakat Trenggalek yang mau memulai usaha tersebut.
Dirinya meyakini atas dasar potensi SDM mau pun SDA yang ada di Trenggalek sangat menunjang kebutuhan komiditas Nata De Coco. “Sangat berpeluang karena potensi sumber dayanya ada, bahan bakunya cukup menunjang karena disekitaran sini ada industri yang limbahnya bisa dimanfaatkan, itu salah satunya,” jawab Widi. [tok/suf]






