Mojokerto (beritajatim.com) – Kain perca adalah limbah tekstil yang dapat dimanfaatkan untuk membuat aneka produk daur ulang yang bermanfaat, salah satunya yaitu keset kaki. Seperti yang dilakukan sejumlah ibu-ibu di Dusun Sidorembyong, Desa Cinandang, Kecamatan Dawablandong, Kabupaten Mojokerto ini.
Puluhan ibu-ibu di Dusun Sidorembyong mendapatkan tambahan penghasilan dari memanfaatkan limbah kain perca. Kain perca sengaja didatangkan dari Gresik yang kemudian disusun sesuai warna dan pola yang diinginkan untuk dijadikan keset kaki. Bentuknya pun bermacam-macam, ada oval, maupun kotak.
Ada sekitar 20 orang ibu-ibu di Dusun Sidorembyong yang setiap harinya bergelut dengan limbah kain perca. Para ibu-ibu ini berbagi tugas untuk membuat kerajinan keset kaki. Ada yang memotong kain perca, merangkai sesuai warna dan disusun sepanjang 1 meter hingga akhirnya dijahit.
Para ibu-ibu ini kemudian menyetor hasil keset kaki tersebut ke Putatik (32). Istri dari Rakup (36) ini merupakan pencetus ide pembuatan keset kaki dengan melibatkan ibu-ibu warga Dusun Sidorembyong. Ide tersebut tercetus sejak tahun 2021 lalu, yakni saat pandemi melanda.
“Sejak tahun 2021, waktu pandemi kan di rumah saja tidak ada kegiatan jadi saya itu punya ide buat keset dari kain perca. Tetangga-tetangga saya ajak, banyak yang mau. Iya warga Dusun Sidorembyong. Saya ambil kain perca dari Gresik,” ungkapnya, Selasa (9/5/2023).
Ada sekitar 20 orang ibu-ibu yang diberi pelatihan membuat keset kaki. Dalam sehari, rata-rata ibu-ibu Dusun Sidorembyong menghasilkan 20 biji keset kaki. Dengan harga Rp2.500 per keset kaki, para ibu-ibu ini mendapatkan penghasilan Rp50 ribu dari pembuatan keset kaki.
“Satu orang bisa 20 biji per hari, itu rata-rata. Harganya Rp2.500, warga sehari mendapatkan sekitar Rp45 ribu-Rp50 ribu. Alhamdulillah ekomoni warga terbantu dengan mendapatkan tambahan penghasilan dari membuat keset kaki,” katanya.
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/harapan-bupati-mojokerto-di-hari-jadi-ke-730/
Ibu satu anak ini menjelaskan, jika ia sudah tak kesulitan dalam memasarkan produk homemade tersebut. Ini lantaran sudah ada tengkulak yang datang mengambil keset kaki tersebut setiap minggunya. Selain itu, jumlah keset kaki yang dihasilkan para ibu-ibu tersebut juga tidak ditentukan.
“Langsung diambil sama bakul keset, dikirim ke luar Jawa. Seperti Kalimantan. Satu minggu sekali, tiap hari Minggu bakul datang untuk ambil. Kadang tidak ada yang setor, tiap minggu beda. Kadang 4 kodi, 5 kodi, bahkan hanya 1 kodi. Tidak pasti, iya mau sesuai yang disetor,” ujarnya.
Putatik mengaku mendapatkan ilmu membuat keset kaki dengan memanfaatkan limbah daur ulang kain perca tersebut karena sebelumnya ia bekerja sebagai pembuat keset kaki. Ia bekerja membuat keset kaki di Dusun Toyo, Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.
“Dulu awalnya ikut orang di Toyo (Dusun di Desa Brayublandong). Daripada jauh, saya buka sendiri. Saya ajak tetangga warga Dusun Sidorembyong. Karena banyak tertarik jadi sekarang usaha di sini, alhamdulillah bisa membantu warga mendapatkan tambahan penghasilan dan juga memanfaatkan limbah kain perca,” tegasnya. [tin/but]
![Limbah Kain Perca Disulap Ibu Rumah Tangga Mojokerto Jadi Produk Daur Ulang Ibu-ibu di Dusun Sidorembyong, Desa Cinandang, Kecamatan Dawablandong, Kabupaten Mojokerto membuat keset kaki dari limbah kain perca. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/05/1-19-1024x576.jpg)
![Ibu-ibu di Dusun Sidorembyong, Desa Cinandang, Kecamatan Dawablandong, Kabupaten Mojokerto membuat keset kaki dari limbah kain perca. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/05/2-9.jpg)





