Ponorogo (beritajatim.com) – Prestasi membanggakan diukir dua pelajar di Ponorogo. Bagaimana tidak, dua pelajar perempuan itu, diterima di perguruan tinggi atau universitas yang berada di luar negeri. Mereka adalah Etik Nurhasanah dan Like Zuyyina Fatwa Fadila, siswi kelas 12 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ponorogo.
Duo bestie itu, mendaftarkan beberapa perguruan tinggi di luar negeri, setelah mendapatkan beasiswa dari program Beasiswa Indonesia Maju (BIM) yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek dan Teknologi. (Kemendikbud Ristek). Ada lebih dari 5 perguruan tinggi di luar negeri yang menerima dua siswa, yang merupakan pengurus Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di MAN 2 Ponorogo.
Etik Nurhasanah tercatat diterima di 6 perguruan tinggi di luar negeri. Yakni National Taiwan University, McMaster University Kanada, University of Toronto Mississauga Kanada, Wageningen University dan terakhir perguruan tinggi di Australia. Yakni The University of Western Australia dan Monash University Australia.
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/peristiwa/klenteng-hiap-thian-kiong-mojosari-mojokerto-terbakar/
Sementara untuk Like Zuyyina Fatwa Fadila lebih banyak, yakni ada 8 perguruan tinggi di luar negeri yang menerimanya. Yakni National Taiwan University, Monash University Australia, University of Western Australia, Wageningen University Belanda. Kemudian ada 4 perguruan tinggi dari Kanada, yaitu University of British Columbia, University of Toronto Scarborough, University of Toronto St.George dan University of Toronto.
Dari beberapa perguruan tinggi yang masuk dalam 100 perguruan tertinggi terbaik di dunia itu, keduanya menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan belajarnya, sebagai mahasiswa di National University Taiwan. Meski berada di kampus yang sama, namun keduanya memilih jurusan yang berbeda.
“Dari beberapa perguruan tinggi yang menerima itu, akhirnya kita menjatuhkan pilihan di Taiwan, yakni National University Taiwan,” kata Dila, panggilan karib Like Zuyyina Fatwa Fadila, ditulis Minggu (07/05/2023).
Di National University Taiwan, Dila mengambil jurusan Bioteknologi dan Ahli Gizi Makanan. Sedangkan rekannya, Etik lebih memilih untuk jurusan ilmu ekonomi. Dila menjatuhkan belajar ke Taiwan, tidak lain juga karena ingin belajar bahasa Mandarinnya. “Dengan mengambil study di National University Taiwan, saya berharap juga bisa mempelajari bahasa Mandarinnya,” katanya.
Sementara itu, Etik mengungkapkan bahwa berkesempatan daftar ke beberapa perguruan tinggi di luar negeri itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus ada perjuangan yang konsisten sejak mereka masih berada di kelas 11. Untuk mendapatkan beasiswa program Beasiswa Indonesia Maju (BIM) dan berkesempatan di luar negeri, mereka harus mempunyai porto folio memenangkan perlombaan di tingkat nasional. Selain itu, mereka juga dituntut untuk cakap dalam berbahasa Inggris. “Alhamdulillah, kita memenuhi persyaratan itu. Hingga akhirnya mendapatkan beasiswa dan bisa belajar di kampus di luar negeri,” pungkasnya. (end/kun)






