Bojonegoro (beritajatim.com) – Atlet panahan asal Kabupaten Bojonegoro Ika Yuliana Rochmawati (34) pernah beberapa kali menjuarai turnamen kelas internasional. Prestasinya itu diraih berkat konsistensinya dan kerja kerasnya dalam menjalani proses dari nol.
Atlet perempuan asal Kelurahan Banjarejo itu memulai karir di dunia olah raga panahan sejak kelas 6 sekolah dasar (SD). Mewarisi darah olahragawan ibunya yang memberikan support besar. Ibunya sendiri merupakan seorang guru olah raga.
“Kali pertama gabung panahan atas dorongan ibu. Selain itu juga bayangan pertama saya ketika kenal panahan itu dari film anime,” ujarnya, Sabtu (6/5/2023).
Tidak mudah baginya untuk sampai pada torehan beberapa prestasi yang dikantonginya saat ini. Ibu satu anak itu juga sempat merasa tertinggal dengan atlet lain dalam organisasinya. Hingga lagi-lagi, ibunya yang bisa membuatnya kuat dan bertahan hingga sekarang.
Baca Juga:
Tiap Bulan 50-an ASN di Pemkab Bojonegoro Pensiun
“Saya sempat down dan merasa tertinggal dengan atlet lain. Bidikan saya masih sering lepas, sedangkan teman-teman sudah lebih baik,” ungkap perempuan yang memiliki moto Keep On Your Faith and Compassion, Be Kind and Stay Strong.
Dia mengenang, bidikannya yang masih sering lepas itu menjadi masalah besar. Saat membidik, ia sebelumnya menggunakan mata kirinya. Padahal ia tidak memiliki kecenderungan menggunakan tangan kirinya untuk membidik. Sampai pada akhirnya, dia berkonsultasi dengan pelatihnya.
Pelatih panahan Bojonegoro saat itu (2004) dipegang oleh Donald Djatunas Pandiangan. Setelah mendapat saran dari pelatihnya untuk menggunakan mata kanan dalam membidik, dia mulai sering mengenai sasaran. Kemampuannya semakin berkembang.
“Ternyata itu kesalahannya. Karena saya gak kidal, jadi menggunakan mata kanan pas nembak sasaran,” ujar perempuan yang lebih sering tampil sederhana itu.
Kali pertama ia mulai mengikuti kompetisi panahan saat kelas XIII SMP. Dan mendapat juara. Setelah itu, mulai banyak mengikuti kompetisi baik ditingkat kabupaten, hingga kompetisi internasional. Torehan prestasi yang pernah ia peroleh selama berkarir di dunia panahan yang paling tinggi adalah adalah ajang piala dunia World Cup 2014 di Polandia.
Baca Juga:
Sidang Gugatan Penyerobotan Tanah oleh Bupati Bojonegoro dengan Agenda Pembuktian Setempat
Dia mendapat 1 emas dalam kejuaraan kelas dunia tersebut. Selain itu, Asia Cup 2013 di Thailand mendapat 1 emas dan 1 perunggu. Sedangkan untuk Sea Games sendiri, Ika Yuliana pada 2007 (Thailan) mendapat 2 emas, 2009 (Laos) mendapat 1 emas, 2011 (Indonesia) mendapat 1 emas, 2013 (Myanmar) mendapat 1 emas, 2 perunggu, 2015 (Singapura) mendapat 1 emas, 1 perak, 2017 (Malaysia) mendapat 1 perak.
Sementara beberapa kejuaraan yang pernah diikuti diantaranya, Asian Games 2010 di China dan 2014 di Korea. Sedangkan untuk Olympic Games pernah turut bertarung pada 2008 di Beijing, 2012 di London, dan 2016 di Rio De Janeiro. Untuk PON sendiri, pada 2016 di Jabar mendapat 2 emas dan di PON Papua 2021 mendapat 1 emas.
Meski banyak prestasi yang pernah didapatkan, ia masih memiliki keinginan yang belum tercapai, yakni mengikuti olimpiade panahan yang digelar empat tahunan. Sedangkan, untuk sekarang ia mengaku masih menyiapkan diri untuk Pra PON yang rencananya akan digelar pada 2023.
Dari prestasi yang diperoleh di dunia panahan, Ika Yuliana juga menularkan bakat kepada adik-adiknya. Dua adiknya sekarang aktif di dunia panahan sebagai pengurus kabupaten maupun guru olahraga serta memegang ekstra kurikuler panahan. [lus/beq]






