Tuban (beritajatim.com) – Kasus ternak sapi terserang Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit Lato-lato di Kabupaten Tuban meningkat. Kasus terbanyak muncul di Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding.
Kepala Dinas DKP2P Kabupaten Tuban, Eko Arif Julianto mengatakan pihaknya telah menerima aduan pemilik sapi terserang Lato-lato. Pihaknya bergerak cepat melakukan penanganan.
“Agenda yang dilakukan di antaranya surveilans, KIE, pengobatan, pemberian desinfektan, vitamin dan suplemen pakan,” ujar Eko.
Karena kasus sapi terserang Lato-lato kian meningkat, pihaknya menggandeng TNI, Polri, Pemdes, tenaga kesehatan veteriner, hingga Kecamatan untuk menanggulangi penyakit tersebut.
“Kami memastikan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan sebab angka kasus LSD belakangan ini meningkat,” ungkapnya.
Baca Juga:
Wisatawan di Tuban Naik 4 Kali Lipat Saat Libur Lebaran 2023
Sebelumnya, petugas gabungan langsung terjun dari rumah ke rumah untuk mengecek kondisi ternak yang ada di desa tersebut. Menurut Arif, langkah ini juga dilakukan untuk memastikan jumlah kasus kematian ternak terduga terjangkit LSD.
“Selain itu, kami juga mengobati ternak sapi yang sakit,” ujar Arif.
Arif juga menjelaskan, banyak kasus ternak sapi yang mati diduga terkena penyakit LSD atau biasa disebut oleh masyarakat lokal penyakit lato-lato.
“Terkadang masyarakat ada yang tidak laporan kepada petugas, sehingga menimbulkan ketidaksamaan data yang ada di sistem, dengan yang ada di lapangan,” terang dia.
Maka dari itu, pihaknya langsung melakukan kroscek untuk memastikan angka kematian dan penyebab matinya ternak sapi.
“Kami mengimbau kepada peternak sapi untuk selalu mengecek kondisi ternaknya. Jika menemukan gejala seperti demam pada ternak, muncul benjolan pada kulit, kaki bengkak, dan sapi kehilangan nafsu makan, agar segera melapor ke petugas kesehatan hewan,” kata Arif.
Baca Juga:
Halal Bihalal Pemkab Tuban, Bupati Minta ASN Kerja Efektif
Arif mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu proaktif dan lapor ketika menemukan gejala – gejala tersebut, sehingga dari petugas kesehatan hewan langsung melakukan langkah yang tepat dan bisa menekan penyebaran penyakit LSD khususnya di Kabupaten Tuban.
Saat ditanya perihal beredarnya anggapan masyarakat terhadap penyakit sapi karena disebabkan oleh pemberian vaksin, Arif menegaskan hal itu tidak benar.
“Terkait dengan vaksin capaian kita baru 50 persen dan anggapan itu sangat salah,” tutur Arif.
Karena hal itu, petugas juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang memiliki ternak agar tidak termakan spekulasi yang beredar.
“Diharapkan masyarakat lebih percaya kepada petugas kesehatan hewan dan bersinergi untuk mencegah penularan,” pungkasnya. [ayu/beq]






