Jember (beritajatim.com) – Anies Baswedan menjadi perbincangan di media sosial setelah mengunggah sebuah foto di akun twitternya, Rabu (26/4/2023).
Dalam foto itu, Anies sedang duduk di sebuah kursi santai tepi pantai dalam suasana senja sembari membaca sebuah buku berjudul Principles for Navigating Big Debt Crises karya Ray Dalio yang baru terbit pada Desember 2022 lalu.
Anies menuliskan kalimat: “Matahari yang terang itu, kini mulai meredup terbenam. Teduh, semilir dan tenang untuk membaca dan bersiap. Sebelum esok menyambut hari yang baru dan lebih baik.
Bagi yang telah mengakhiri masa liburan, selamat bersiap kembali bekerja dan berkarya esok hari.”
Unggahan itu langsung menuai respons beragam dari pecinta dan pembenci Anies, serta di-retweet sebanyak 2.780 kali dan disukai 13 ribu akun hingga Kamis (27/4/2023) pukul 19.22 WIB. Ada 1.389 orang yang mengomentari unggahan itu.
Muhammad Iqbal, doktor ilmu komunikasi Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menilai pilihan awal kalimat dalam cuitan Anies merupakan contrasting message atau pesan pembeda yang kuat untuk menjawab pernyataan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto terkait pencapresan Ganjar.
Sebelumnya, Hasto secara hiperbolis menyatakan, “Kalau Ibu Mega (Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP) udah ambil keputusan, ini tidak akan berubah meskipun matahari terbit dari barat.”
“Boleh jadi Anies menimpali kalimat hiperbolik yang berkesan agak jemawa itu dengan mengecilkan maknanya kembali ke sifat dasar hukum alam, yaitu, matahari yang terang itu, kini mulai meredup terbenam,” kata Iqbal.
Cuitan itu menunjukkan Anies seolah sangat meyakini konsepsi harmoni hukum alam. “Keperkasaan sang matahari di sepanjang hari dari terbit, pasti meredup dan terbenam ketika senja datang. Tak seperti pernyataan Hasto yang justru melawan hukum alam,” kata Iqbal.
Alumnus Universitas Airlangga ini melihat cuitan itu adalah penggambaran karakter dan kapasitas Anies dalam menyikapi dinamika alot kontestasi dan polemik sengkarut politik. “Anies tetap harus meneduhkan, tapi daya energi terus bergerak dengan tenang sambil berfokus mencermati setiap perkembangan situasi,” katanya.
Iqbal menduga Anies bersiap merancang daya strategi narasi, kreasi dan aksi untuk menghasilkan solusi atas apa yang paling mendasar dialami bangsa dan negeri Indonesia, yaitu potret kelam menggunungnya hutang.
“Boleh jadi, itulah kenapa buku berjudul Principles for Navigating Big Debt Crises dengan sampul warna hitam sengaja dipilih Anies untuk merepresentasikan misi besar membawa perubahan yang jauh lebih baik lagi sebagai Presiden 2024-2029,” kata Iqbal.
Unggahan Anies semakin memperkuat kesan bahwa kontestasi pemilihan presiden tak cuma mengandalkan ilmu dan strategi, tapi juga kontemplasi seni. “Unggahan foto Anies bernilai kontemplasi seni yang tinggi dan mendalam maknanya untuk masa depan perubahan bangsa Indonesia,” kata Iqbal.
Dengan menunjukkan buku ‘Krisis Utang Besar’, Anies secara simbolik ingin mengingatkan apa yang dialami bangsa Indonesia saat ini. “Bung Karno memformulasikan konsep Trisakti demi Indonesia yanf mampu berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan sebagai bentuk revolusi suatu bangsa,” kata Iqbal.
“Namun, di bawah pemerintahan saat ini, visi nasionalisme dan Trisakti Bung Karno hanya sebatas jargon, dan Indonesia bisa terjerembab dalam jurang big debt trap atau jebakan utang besar,” kata Iqbal.
“Anies menyadari betul mengapa buku Ray Dalio itu perlu dibaca. Anies sungguh siap membawa perubahan besar untuk Indonesia melampaui visi para pendiri bangsa,” kata Iqbal. [Wir]






