Surabaya (beritajatim.com) – Perjuangan Hesti Rochmat Wulandari, alumni Untag Surabaya ini mungkin layak untuk dijadikan teladan. Sebab, ia harus merasakan jatuh berulang kali demi menggapai impiannya masuk di perguruan tinggi.
Hesti hanyalah anak tukang bakso yang bermimpi merasakan kuliah. Terlahir dari keluarga sederhana, semangat belajarnya pun tak pernah padam. Bahkan, ia pernah dimarahi pelanggan gara-gara melayani jualan bakso sambil ujian tes beasiswa.
“Dari keluarga bapak dan ibu tidak ada satu pun yang bergelar sarjana. Itu juga motivasiku untuk bisa menjadi sarjana. Menunjukan pada keluarga bahwa aku juga bisa kayak orang lain,” ujar Hesti, Selasa (25/4/2023).
Hesti pun mengenang perjuangannya ketika hendak masuk ke perguruan tinggi. Kala itu, Hesti mengaku mengalami peristiwa yang membuat cita-cita untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi harus dipendam dalam-dalam.
Saat itu, Hesti sudah diterima masuk di perguruan tinggi, namun tidak bisa membayar biaya pendaftaran ulang, lantaran usaha ayahnya jualan bakso di pinggir jalan digusur. Uang yang sedianya dipakai membayar daftar ulang pun harus dialihkan untuk membangun usaha kembali.
“Berjualan bakso merupakan satu-satunya mata pencarian kami. Kami bisa makan dan bertahan hidup dari berjualan bakso. Walau hanya tinggal bersama ayah, ini tak membatasiku tetap mewujudkan mimpi menjadi lulusan sarjana,” tutur Hesti sembari mengenang kepergian ibunya pada 2012 silam.
Perempuan kelahiran Sidoarjo itu juga mengungkapkan, saat hendak mendaftar kuliah, dengan meminjam laptop temannya, dirinya berjuang mengikuti tes lewat jalur beasiswa. Saat mengikuti tes tersebut, ia juga sambil melayani pembeli bakso.
“Waktu tes itu kan satu jam. Di saat itu, aku juga sambil melayani pembeli bakso bapak. Antara waktu jawab soal dengan pesanan pelanggan saling kejar-kejaran, sampai aku dimarahi pelanggan karena dilihat sambil main laptop,” kata Hesti.
Atas kerja kerasnya itu, selang beberapa bulan kemudian, Hesti menerima kabar jika dirinya lolos tes masuk perguruan tinggi jalur beasiswa di Untag Surabaya. Ya, meskipun saat itu tidak ada lagi ambisi untuk kuliah. Sebab, baginya yang terpenting bisa membantu orang tua jualan agar bisa makan setiap hari.
“Alhamdulillah, perjuangan selama ini tidak sia-sia. Ternyata ketika kita mengikhlaskan sesuatu yang mana hal itu kita sangat impikan, yakin dan percaya kita akan mendapatkan yang lebih dari tuhan,” ujar perempuan kelahiran Mei 1999 tersebut.
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/psikolog-untag-surabaya-sebut-nyanyi-lagu-indonesia-raya-di-sekolah-tak-otomatis-cetak-patriotisme-siswa/
Semasa kuliah, Hesti pun tak menyiakan waktunya dan terus belajar dengan aktif mengikuti berbagai kegiatan mahasiswa seperti UKM Teater Kusuma, Pecinta Alam, Media Fotografer Tradisional hingga menjadi Duta Kampus pada 2018. Bahkan, Hesti juga diminta menjadi crew MetroTV di Jakarta.
Hingga pada Februari 2023 lalu, Hesti akhirnya berhasil menuntaskan studinya dengan perolehan IPK 3,73 dan meraih penghargaan sebagai lulusan menginspirasi di tengah keterbatasan ekonomi.
“Walau di hari wisuda bapak tidak bisa datang karena sedang terbaring di rumah sakit, aku tetap tersenyum bangga pada pencapaian ini. Semua adalah berkat diriku, berkat usaha yang ikhlas dan berkat doa bapak,” ucap sarjana Ilmu Komunikasi Untag Surabaya tersebut. [ipl/ted]






