Surabaya (beritajatim.com) – Christiana Dessynta Streiff merupakan Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) di Eropa. Dalam webinar yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Andalusia, ia menjelaskan tentang kebaya sebagai identitas perempuan Indonesia pada Minggu (16/4/2023).
Dalam pemaparannya, Christiana menjelaskan bahwa ia ingin mengenalkan Kebaya di seluruh wilayah Eropa. Salah satunya ialah dengan cara mengenakan Kebaya dalam kegiatan kesehariannya.
Selain itu, dirinya juga menjelaskan banyak hal terkait Kebaya. Mulai dari sejarah hingga filosofinya.
“Menurut penelusuran sejarah, bentuk awal kebaya berasal dari Kerajaan Majapahit, yaitu busana yang dikenakan oleh para permaisuri dan selir raja,” terangnya.
Adapun filosofi kebaya Indonesia sendiri tidak lepas dari bentuk atau desainnya yang mengikuti bentuk tubuh. Hal ini artikan bahwa perempuan dapat menyesuaikan dengan keadaan, sehingga dapat berekspresi lebih lembut dan luwes.
BACA JUGA: 5 Jenis Kebaya yang Ada di Indonesia, Kamu Wajib Tahu Agar Tidak Diklaim Negara Lain
Busana yang kerap disandingkan dengan kain jarik atau kain panjang ini, juga disebutkan memiliki beberapa jenis yang beragam, seperti Kebaya Kutu Baru, Kebaya Kartini, Kebaya Encim, dan Kebaya Noni.
Christiana menyebutkan perbedaan dalam keempat kebaya tersebut. Mulai dari Kutu Baru yang merupakan kebaya klasik Indonesia. Di mana pada bagian dada terdapat kain penghubung lipatan. Selain itu, pada bagian dalamnya menggunakan stagen atau kendit.
Sedangkan kebaya Kartini, merupakan kebaya yang cukup populer di Indonesia. Di mana sesuai dengan namanya, kebaya ini diambil dari nama pahlawan perempuan. Dengan desain leher atau bagian depan tertutup.
Selain itu, ada Kebaya Encim yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa. Dengan karakteristiknya yang memiliki warna cerah dan disertai bordiran.
Berbeda dengan jenis yang lain, kebaya noni justru terinspirasi dari noni-noni Belanda yang biasanya didesain mewah. Di mana umumnya terdapat hiasan berenda.
“Selain itu banyak juga jenis lain, mulai dari Kebaya Nyonya, Kebaya Ambon, Kebaya Minahas, Kebaya Sunda, hingga Kebaya Basiba,” imbuhnya.
Dalam webinar tersebut, Christiana mengungkapkan harapannya. Ia berharap agar masyarakat lebih bangga terhadap busana tradisional tersebut. Serta tetap eksis memakainya dalam kegiatan sehari-hari. Terlebih, saat ini kebaya telah dikombinasikan dengan beragam aksesoris. Serta dapat dipadupadankan sehingga tampak lebih kekinian. (fyi/nap)






