Bojonegoro (beritajatim.com) – Transaksi penukaran sampah menjadi emas selama Ramadhan 1444 Hijriah hingga menjelang Lebaran Idul Fitri mengalami peningkatan. Hal itu seperti yang terjadi di Bank Sampah Rayasa, Desa Kauman Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro.
Pengelola Bank Sampah Rayasa, Oki Sepma (31) warga RT 11 RW 02 Gang Mawar Desa Kauman Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro mengaku, selama Ramadhan dan menjelang lebaran Idul Fitri 1444 Hijriah ada peningkatan jumlah penukaran sampah menjadi tabungan emas. Peningkatan transaksi itu terjadi antara 40 persen dibanding hari biasa.
“Hari ini ada yang ambil tabungan emasnya. Ini juga ada nasabah yang sudah pesan untuk mencairkan tabungan emas yang ditukarkan uang untuk lebaran,” ujarnya, Jumat (14/04/2023).
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/peristiwa/mbok-yem-pemilik-warung-di-gunung-lawu-magetan-turun-diangkut-tandu/
Selain itu, sebagian besar member yang membeli maupun menukar sampah menjadi emas minigold itu mengaku kaan dipakai untuk pemberian bingkisan lebaran. Per orang, menurutnya bisa membeli hingga 10 keping emas dengan berat 0,025 gr.
Peningkatan transaksi penukaran sampah menjadi tabungan emas itu diperkirakan karena tingkat konsumsi masyarakat selama bulan Ramadhan mengalami peningkatan. Jenis-jenis sampah yang bisa ditukar logam mulia itu diantaranya, sampah buku, kertas HVS, botol, dan plastik daun.
Sampah-sampah tersebut nantinya akan didaur ulang untuk dimanfaatkan menjadi barang jadi. “Sampah yang terkumpul tidak dijual lagi, tapi didaur ulang misalnya untuk pot bunga,” ujar Apvika Nurhayati, istri Oki Sepma menambahkan.
Pasangan suami istri ini membuka usaha bank sampah yang bisa ditukar dengan emas batangan karena melihat semakin banyaknya sampah plastik di sekitar. Kemudian mengkombinasikan dengan usaha awal mereka yakni berjualan emas batangan.
Usaha penjualan emas batangan itu mereka lakukan sejak 2019, sedangkan bank sampah dirintis dua tahun setelahnya. Saat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, muncul ide membuat bank sampah untuk mempertahankan ekonomi keluarga juga menjaga lingkungan dari dampak buruk perubahan iklim akibat sampah.
Saat ini, Bank Sampah Rayasa sudah punya sekitar 60 member. Para member yang setor sampah kemudian dicatat dalam buku tabungan. Setelah berat akumulasi sampah yang disetor memenuhi harga emas atau logam mulia, baru bisa ditukarkan. “Dari pada membuang sampah di TPA, bisa disetor ke bank sampah dan mendapat emas atau uang juga bisa,” terangnya.
Sekadar diketahui, untuk bisa mendapat emas minigold seberat 0,01 gram, maka bisa menabung sampah kertas sekitar 10 kg. Untuk sampah botol setara dengan 20 kg. Sedangkan untuk sampah plastik daun lebih banyak lagi karena selain tipis juga harganya murah.
“Jika tabungan sampahnya sudah terkumpul hingga senilai Rp250 ribu bisa ditukar logam mulia seberat 0,25 gram dan otomatis mendapat bonus logam mulia seberat 0,01 gram,” terangnya.
Arika Hutama, perempuan asal Desa Klangon, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro mengaku tertarik mendaftar sebagai member di Bank Sampah Rayasa karena produksi sampah plastik dari keluarganya sendiri tidak bisa dihindari.
Sehingga ia memilih dan memilah sampah rumah tangga untuk disetor ke Bank Sampah yang memiliki moto Tukar Sampahmu Jadi Emas. “Dari pada dibuang di tempat sampah, saya kumpulkan untuk ditukar emas,” terangnya.
Untuk diketahui, data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, produksi sampah setiap tahun terus mengalami peningkatan. Pada 2021 jumlah produksi sampah di kota ledre ini sebesar 1.605 ton, meningkat jika dibanding 2022 menjadi sebesar 2.533 ton. Produksi sampah mengalami kenaikan drastis hingga 58 persen. [lus/kun]







