Surabaya (beritajatim.com) – Pandemi Covid- 19 masih menyisakan banyak cerita bagi sebagian besar masyarakat. Cerita sendu pun dialami para pengusaha salah satunya Indayati Oetomo, International Director John Robert Powers.
“Kayak kesamber petir ya karena seumur-umur belum pernah kan. Kalau krisis-krisis sebelumnya cuma materi, kalau (pandemi) ini kan pikiran juga terkuras, mental kena semua. Jadi menurut saya krisis yang holistik, jasmani dan materi,” ungkapnya, Sabtu (8/4/2023) malam.
Indayati berkisah, saat pandemi dirinya tak boleh egois dengan hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga harus memikirkan nasib sekian banyak karyawan yang menggantungkan pekerjaan padanya.
“Yang saya pikirkan itu nasib karyawan sekian banyaknya ini gimana? Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya mengambil keputusan untuk melakukan PHK, sebenarnya tidak tega, tapi mau bagaimana lagi? Ini jalan yang harus dipilih dan saya pun meminimalisir (PHK) hanya 25 persen saja. Ini supaya kita bisa bertahan,” paparnya.
Pembatasan interaksi juga memaksa Indayati untuk memutar otak agar program John Robert Powers (JRP) tetap berjalan. Hingga lahirnya pemikiran untuk membuat program secara hybrid yang meminimalisir interaksi antara guru dengan siswa di JRP.
Indayati tak memungkiri jika pandemi Covid-19 cukup memberi pukulan telak bagi keberlangsungan JRP. Selain melakukan pengurangan karyawan, Indayati juga harus menutup salah satu kantor cabang JRP di Kota Medan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pandemi”]
“Di Medan itu akhirnya kita tutup, karena kondisinya memang tidak memungkinkan,” tandasnya.
Tak berhenti sampai di situ, untuk kantor JRP di Surabaya, Indayati juga harus rela pindah ke lokasi yang lebih kecil demi menghemat pengeluaran. Bahkan Indayati juga harus menjual grand piano kesayangannya yang telah menemaninya sejak di awal merintis JRP di Indonesia.
“Pindah kantor ke tempat yang lebih kecil, saya tidak malu. Kenapa harus malu? Bagi saya, yang penting tetap bisa bertahan,” tegasnya.
Pandemi Covif-19 juga membuat Indayati berhutang biaya dalam jumlah yang tidak sedikit demi menutup biaya operasional.
“Sampai ada tunggakan biaya listrik dan sewa kantor. Saya sering ditagih sampai listrik terancam diputus, tapi semua saya hadapi. Saya tidak bersembunyi, saya bangun komunikasi (dengan pihak penagih). Akhirnya saya diberi kemudahan untuk menyicil. Jadi kalau punya hutang itu jangan malah kabur, harus dihadapi. Semua kalau dikomunikasikan itu pasti ada jalan keluarnya,” tukasnya.
Kini pinjaman sudah mulai nutup, sekarang hanya tinggal sekitar 30 persen saja. Aktivitas (JRP) juga sudah berjalan normal bahkan kalau bisa dibilang (pendapatan) sudah balik seperti sebelum pandemi.
Bagi Indayati, perjuangan bertahan selama pandemi memberikan banyak pelajaran berharga. Meski demikian Indayati tak ingin menoleh ke belakang sebagai bentuk jika dirinya telah benar-benar bangkit dari pandemi.
“Diambil hikmahnya tapi jangan menoleh ke belakang lagi. Ibaratnya kalau kita putus dari pacar ya harus dibuang jauh mantannya, move on, cari yang baru,” tandasnya. [rea]






