Surabaya (beritajatim.com) – Autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang mempengaruhi kemampuan mereka dalam berkomunikasi secara verbal dan nonverbal, sehingga berdampak pula pada kemampuan bersosialisasi secara normal. Masalah kesehatan ini telah mempengaruhi 1 dari 150 anak di dunia dan telah meningkat sebanyak 30% sejak tahun 2012, inilah salah satu alasan mengapa Hari Autisme Sedunia lahir.
Hari Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day diperingati setiap tanggal 2 April di setiap tahunnya. Sesuai namanya, hari internasional ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan yang terus berkembang ini serta kepedulian terhadap penyandang autisme itu sendiri.
Ingin tahu seperti apa sejarah hadirnya Hari Autisme Sedunia? Simak penjelasannya di bawah ini.
Sejarah Hari Autisme Sedunia
Sejarah autisme dimulai pada awal hingga pertengahan 1900-an, tepatnya di tahun 1911 ketika kata “Autisme” pertama kali digunakan oleh psikiater Eropa, Eugen Bleuler yang menganggap masalah kesehatan tersebut sebagai skizofrenia. Meski begitu, para dokter di Swiss, Rusia, Austria dan Amerika Serikat mengambil langkah untuk memahami autisme sebagai gangguan yang berbeda.
Berlanjut di tahun 1943, psikiater anak Dr. Leo Kanner mencirikan autisme sebagai gangguan sosial dan emosional dalam artikelnya yang berjudul “Gangguan Autistik Kontak Afektik”. Kemudian, pada tahun 1944, Hans Asperger menerbitkan “Artikel Psikopatologi Autisme” di mana ia menjelaskan autisme sebagai gangguan kecerdasan normal anak yang mengalami kesulitan dengan kemampuan sosial dan komunikasi.
BACA JUGA: Peringati Hari Bipolar Sedunia, Begini Sejarahnya
Sementara itu, Hari Autisme Sedunia mulai didirikan pada tanggal 18 Desember 2007 oleh Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB), yakni pada saat Majelis Umum menyusun resolusi 62/139. Diusung oleh negara Qatar yang melihat banyaknya penderita autisme yang dikucilkan dalam bermasyarakat, dan ide ini pun didukung oleh berbagai negara anggota lainnya.
Hari Autisme Sedunia kemudian diresmikan berdasarkan surat nomor A/RES/62/139, dan didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran akan autisme di masyarakat umum. Diharapkan pesan ini dapat tersampaikan ke seluruh lapisan masyarakat di dunia dan berdampak pada kualitas hidup penyandang autisme.
Untuk bisa ikut memperingati Hari Autisme Sedunia ini, bisa dimulai dengan menyebarkan kampanye – kampanye di media sosial atau bahkan terjun langsung untuk bersosialisasi dengan anak – anak penyandang autisme. (mnd/nap)






