Ponorogo (beritajatim.com) – Ratusan orang usia angkatan kerja, mengikuti pelaksanaan pelatihan berbasis kompetensi yang dilakukan di Unit Pelayanan Terpadu Balai Latihan Kerja (UPT BLK) Ponorogo. Tercatat ada 14 paket kejuruhan/kompetensi keahlian yang diikuti oleh ratusan peserta yang mayoritas dari Kabupaten Ponorogo itu. Pelaksanaan belasan paket pelatihan kejuruhan itu, bersumber dari dana APBD Provinsi Jawa Timur dan APBN tahun anggaran 2023.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur Himawan Estu Bagijo jauh-jauh dari Surabaya ke Ponorogo untuk membuka acara pelatihan berbasis kompetensi tersebut. Menurutnya, pelatihan tersebut sangat istimewa. Sebab, pesertanya dari calon pekerja migran Indonesia (CPMI), penyandang disabilitas dan orang normal yang masih usia kerja.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ponorogo”]
“Hari ini kita laksanakan pelatihan untuk 14 paket kejuruhan yang didukung APBD Provinsi Jatim dan APBN. Pelatihan ini sangat istimewa karena diikuti oleh calon PMI, penyandang disabilitas dan peserta normal lainnya,” kata Himawan saat ditemui beritajatim.com, usai acara pembukaan pelatihan, Selasa (28/03/2023).
Sesuai dengan petunjuk dari Ibu Gubernur Jatim, Himawan menyebut bahwa pelatihan ini untuk menyongsong tahun 2023 ini. Dimana pada tahun ini merupakan kebangkitan pasca pandemi Covid-19. Pelatihan diarahkan supaya peserta mendapatkan penambahan kompetensi diusia angkatan kerjanya saat ini. Sehingga kelak, mereka bisa siap di dunia kerja.
“Kalau bisa kita juga lakukan penempatan kerja usai pelatihan. Antar peserta juga bisa berkolaborasi untuk membuat usaha mandiri,” katanya sambil mengungkit lagi bahwa pelatihan ini spesial karena peserta juga diberikan literasi keuangan dan peserta dijamin oleh BP Jamsostek.
Sementara itu Kepala UPT BLK Ponorogo Tri Wahyanto menjelaskan bahwa dari 14 paket kejuruhan itu, sebanyak 12 paket berisi 16 orang peserta. Sementara untuk 2 paket kejuruhan untuk calon PMI. Dimana dalam 2 paket kejuruhan ini, masing-masing berisi 20 orang.
“Khusus untuk PMI ada 2 pelatihan housekeeping dengan peserta masing-masing 20 orang. Jadi untuk calon PMI ada 40 peserta. Sementara untuk 12 paket kejuruhan lainnya berisi masing-masing berisi 16 peserta,” katanya.
Lamanya pelatihan pun juga berbeda-beda. Jika bersumber dari APBD Provinsi Jatim selama 30 hari. Untuk pelatihan yang bersumber dari APBN sebanyak 33 hari. Namun, pelatihan khusus calon PMI lebih lama lagi, yakni 60 hari. “Harapan kita, pelatihan ini bisa benar-benar diikuti oleh peserta. Nanti setelah lulus bisa bekerja di dunia industri ataupun membuka lapangan kerja sendiri,” pungkasnya. (end/kun)






