Bangkalan (beritajatim.com) – Memasuki musim kemarau, para petani di Desa Perreng, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, mengalami kesulitan mendapatkan air untuk lahan pertaniannya. Hal ini disebabkan kurangnya sumber air dan curah hujan yang mulai minim.
Muhammad salah satu petani di desa setempat mengaku bahwa selama ini dirinya hanya bisa memanen padi dua kali dalam setahun. Hal ini disebabkan kurangnya pasokan air untuk pertumbuhan padinya. Selain itu dengan bertani sistem tadah hujan sangat kurang efektif.
“Kita hanya bisa panen dua kali dalam setahun, kerana memang kesulitan terkait irigasi,” tuturnya, Selasa (14/3/2023).
Tak hanya itu, biaya produksi pertanian yang tidak murah juga menjadi penyebab kurangnya jumlah panen di desanya. Dirinya berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk mendukung produktivitas pertanian di desa tersebut.
“Kami membutuhkan sarana dan prasarana untuk menunjang pertanian di desa. Besar harapan kami adanya bantuan atau kemudahan akses agar kita bisa mendapatkan sarana dan prasarana (sarpras) yang dibutuhkan,” imbuhnya.
[berita-terkait number=”2″ tag=”kemarau”]
Selain itu Muhammad juga berharap adanya perbaikan irigasi di desanya agar petani tidak hanya mengandalkan sistem tadah hujan.
“Jika irigasi dan sumber air mencukupi untuk lahan pertanian maka kita pun juga bisa melakukan penanaman padi secara konsisten yang berdampak pada kesejahteraan petani,” harapnya.
Sementara itu, Plt Bupati Bangkalan Mohni mengaku, akan memperjuangkan kebutuhan para petani. Salah satunya yakni membuat sumur bor yang bisa digunakan para petani untuk memenuhi kebutuhan air.
“Kami akan upayakan mulai dari infrastruktur yang menunjang agar kesejahteraan petani di Bangkalan meningkat,” pungasknya.[sar/ted]






