Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswi Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Sepuluh Nopember (DKV ITS) Surabaya, Zahra Fithriyah Muna menciptakan motion comic berjudul ‘Sekawan Berpijar’ untuk meningkatkan kesadaran anti cyberbullying.
Zahra menjelaskan, riset DCI Microsoft menyebut jika Indonesia menjadi negara ke-29 dari 32 negara di dunia yang memiliki kesopanan dalam menggunakan internet pada 2020. Namun seiring dengan itu, tingkat cyberbullying juga cukup tinggi.
Adapun pengguna internet tersebut mayoritas adalah remaja usia 15-19 tahun. Sebab itulah, diperlukan adanya peningkatan kesadaran penggunaan internet pada remaja tersebut. Salah satunya, lewat pembuatan motion karya Zahra ini. “Hal itu saya lakukan menggunakan motion comic sebagai perantaranya,” ujar Zahra, Senin (13/3/2023).
Zahra menjelaskan, motion comic-nya memiliki karakter geng palapa yang terdiri dari empat pelajar. Mereka memiliki misi menyelesaikan masalah perundungan siber yang dialami oleh teman sekelasnya.
Ia mengatakan, bahwa ada 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila yang dipakai geng Palapa dalam menyelesaikan misinya. Pertama, yakni dimensi berkebhinekaan global. Dimensi itu diterapkan dengan berhimpunnya empat pelajar dari berbagai latar belakang yang berbeda baik agama, suku, maupun ras.
Dalam menyelesaikan masalah, geng Palapa juga bekerja sama dan berdiskusi untuk mencari jalan keluar. Tindakan tersebut menunjukkan adanya implementasi dimensi kedua, yakni gotong royong.
Dimensi ketiga, yaitu kreatif. Dikatakan Zahra, geng Palapa bersama-sama menciptakan robot Palapa untuk mendeteksi tindakan yang mencerminkan 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila.
Selanjutnya dimensi keempat yakni bernalar kritis, digambarkan dengan penyelesaian masalah oleh geng Palapa. Tindakannya dilakukan dengan cara mempertemukan sang pelaku dengan korban untuk meminta maaf.
[berita-terkait number=”2″ tag=”its”]
Tindakan meminta maaf oleh pelaku dan menghapus berbagai komentar jahat terhadap korban adalah bukti nyata dimensi kelima, yakni mandiri. Karena hal itu dilakukan lewat tindakan bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat.
Terakhir yaitu dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia. Ini digambarkan lewat berdoa bersama oleh geng Palapa dan kedua temannya agar dijauhkan dari tindakan yang tidak baik, seperti perundungan siber.
Zahra menjelaskan, gagasannya tersebut tidak hanya untuk memutus rantai cyberbullying. Karyanya ini juga bisa dipakai sarana menggalakkan program Profil Pelajar Pancasila oleh Kemendikbudristek). “Dengan menerapkan nilai Pancasila, tokoh dalam motion comic ini dapat menyelesaikan permasalahannya dengan tepat,” katanya. [ipl/ted]






