Surabaya (beritajatim.com) – Angka autism di Indonesia terus mengalami peningkatan sebanyak 5.000 orang setiap tahunnya. Karena itulah, Unesa sebagai kampus ramah disabilitas terus mendukung segala kegiatan untuk mewujudkan lingkungan inklusi di semua lini.
Seperti kegiatan Walk for Autism (WFA) pada Minggu (5/3/2023) kemarin. Dalam kegiatan tersebut, Unesa turut berkontribusi dengan berkolaborasi bersama Junior Chamber International (JCI) Jawa Timur.
Di situ, ribuan pelajar dari berbagai sekolah inklusi dan sekolah luar biasa memadati halaman Unesa Kampus Lidah Wetan. Tampak mereka mengenakan kostum sekolah sembari membawa spanduk dan papan bertuliskan slogan inklusinya masing-masing.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, Inovasi, Publikasi dan Pemeringkatan Universitas Unesa, Junaidi Budi Prihanto mengatakan Unesa mendukung penuh WFA. Kata dia, bentuknya yakni fasilitas hingga 150 relawan dari kalangan mahasiswa yang turut mensukseskan kegiatan tersebut.
“Ini komitmen kita bersama, kami di Unesa terus mendukung acara yang seperti ini. Di samping itu, kami lewat prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB), Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) dan Divisi Disabilitas serta guru-guru besar bidang disabilitas juga terus melahirkan terobosan dan inovasi yang mengarah pada perluasan dan peningkatan akses disabilitas di Indonesia termasuk untuk teman-teman yang autis,” ujarnya ditulis Senin (6/3/2023).
Sementara itu, Inggrid Chandranata sebagai Project Director WFA 2023 menjelaskan, kehadiran masyarakat dalam acara ini dalam rangka membangkitkan kesadaran dan kepedulian terhadap penyandang autism pada khususnya, dan disabilitas pada umumnya.
Kata dia, data menyebut bahwa di Indonesia ada 1 dari 64 anak yang mengidap autis setiap tahunnya. Karena itu, kesadaran terhadap autis harus terus ditingkatkan. “Arahnya, bagaimana bisa menerima dan memberikan hak-hak termasuk akses berbagai aspek yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan bahkan karir mereka,” ujar Inggrid.
Sebagai informasi, kegiatan WFA bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kehadiran dan keberadaan difabel khususnya autis sehingga terwujud lingkungan inklusi di semua lini. Tahun ini, tepatnya Minggu (5/3/2023) kemarin, WFA dikemas dengan cara yang berbeda.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unesa”]
Kegiatan dimulai dengan melipat pesawat kertas dan menulis harapan yang diikuti seluruh peserta termasuk guru dan jajaran pimpinan lembaga yang hadir. Mereka kemudian menerbangkan pesawat itu sebagai simbol kebebasan, kebersamaan serta harapan dan komitmen bersama.
Setelah itu, seluruh peserta mulai jalan sehat dan senam bersama yang diikuti dengan beragam performance mulai dari tarian, permainan alat musik angklung dan lain-lain.
Ada juga lomba-lomba seperti menghias besek dan menghias topi caping, ada kegiatan face painting, sensory play hingga sport stacking atau cup stacking dan ada konsultasi gigi gratis. Selain itu juga terdapat kegiatan menulis kata-kata berupa pesan atau harapan di sejumlah papan. [ipl/but]






