Banyak cendekiawan berbagai disiplin ilmu berpendapat bahwa Provinsi Jawa Timur (Jatim) itu sangat menentukan dalam lanskap nasional. Tidak saja di bidang ekonomi namun pula di lapangan politik, sosial, budaya, demografi, dan lainnya.
Sekadar menyebut contoh beberapa sektor saja. Misalnya, di bidang peternakan, khususnya yang berhubungan dengan ketersediaan dan stabilitas pangan nasional. Pada tahun 2021, jumlah populasi sapi di Jatim mencapai 4.928.987 ekor.
Dari tahun ke tahun jumlah populasi sapi di provinsi berpenduduk hampir 40 juta jiwa ini naik secara inkremental. Tahun 2018, populasi sapi di Jatim sebanyak 4.637.970 ekor, tahun 2019 dengan 4.705.067 ekor, dan 2020 dengan 4.823.970 ekor.
“Populasi sapi di Jatim nomor satu nasional. Jumlah populasinya dibanding provinsi lain yang berada di ranking kedua jauh (njomplang),” kata Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa pada Jumat (24/2/2023) malam.
Begitu pun dengan produksi gabah kering giling (GKG) dan beras. Data yang ada menyebutkan, produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2022 mencapai 9,53 juta ton gabah kering giling (GKG). Produksi padi tertinggi pada 2022 terjadi pada bulan Maret, yaitu sebesar 2,29 juta ton GKG, sementara produksi terendah terjadi pada bulan Januari, yaitu sekitar 0,28 juta ton GKG.
Tak ada yang membantah kehebatan dan posisi strategis Jatim dalam lanskap nasional, terutama di bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama pembangunan juga memperlihatkan mengkilapnya potret Jatim.
Pada triwulan III tahun 2022 lalu, tingkat pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 5,35 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional di periode yang sama.
Indikator pembangunan ekonomi lainnya adalah besaran produk domestik regional bruto (PDRB). BPS Jatim mencatat perekonomian triwulan III 2022 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp700,59 triliun. Sedang PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp447,54 triliun.
Dari seluruh catatan tersebut, Jatim menduduki posisi kedua terhadap sumbangsih perekonomian di Pulau Jawa yang diukur secara kontribusi terhadap PDRB.
“Struktur perekonomian Pulau Jawa pada triwulan III 2022 didominasi Provinsi DKI Jakarta dengan kontribusi PDRB di Pulau Jawa sebesar 29,23 persen. Lalu diikuti Provinsi Jawa Timur sebesar 25,51 persen,” ucap Dadang, pejabat BPS Jatim.
Masih merujuk data BPS Jatim, yang diukur berdasarkan Produk Domestk Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku, perekonomian Jatim tahun 2022 mencapai Rp2.730,91 triliun, sedang berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp1.757,82 triliun.
Provinsi Jatim juga menjadi wilayah jujugan investasi terbesar secara nasional di tahun 2022. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI mencatat, realisasi investasi di Jatim mencapai Rp 110,3 triliun pada tahun 2022. Realisasi ini meningkat 38,8 persen dari tahun 2021, serta lebih tinggi dari pertumbuhan investasi nasional yang tumbuh sebesar 34 persen.
Tak hanya di tahun 2022, realisasi investasi di Jatim tertinggi secara nasional. Dalam 5 tahun terakhir, sejak tahun 2018 besaran nilai investasi di Jatim masuk kelas jumbo dan trennya selalu meningkat. Misalnya, pada tahun 2018 nilai investasi di Jatim sebesar Rp51,2 triliun, tahun 2019 sebesar Rp58,5 triliun, tahun 2020 Rp78,3 triliun, tahun 2021 Rp79,5 triliun, dan tahun 2022 Rp110,3 triliun.
“Kami terus berkomitmen untuk menjaga iklim investasi di Jatim supaya tetap kondusif dan terjaga baik. Sehingga para investor baik dari dalam maupun luar negeri tidak ragu berinvestasi di Jatim,” kata Gubernur Khofifah.
Multikultur dan Tidak Monokultur
Pertumbuhan dan akselerasi perekonomian Jatim itu tumbuh di lingkungan yang multikultur, bukan monokultur. Menilik nama “Jawa” yang melekat pada Jatim menimbulkan kesan sifat sosial dan budaya masyarakatnya yang monokultur. Realitasnya tak demikian. Provinsi Jatim begitu plural. Budayawan Universitas Jember, Ayu Sutarto (2004), membagi wilayah Jatim ke dalam sepuluh tlatah atau kawasan kebudayaan.
Ada 4 tlatah kebudayaan besar: Jawa Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan. Sedang tlatah kebudayaan kecil terdiri atas Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep).
Itulah potret dan peta budaya sosial Jatim yang multikultur, bukan monokultur. Tlatah kebudayaan Jawa Mataraman mendapat pengaruh sangat kuat dari budaya Kerajaan Mataram, baik pada masa Hindu-Buddha maupun era Kesultanan Mataram Islam yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta.
Tlatah kebudayaan besar lainnya adalah tlatah Arek. Batas alamnya adalah sisi timur Kali Brantas. Tlatah kebudayaan ini membentang dari Surabaya hingga Malang.

Tlatah Arek di era akselerasi industrialisasi dan teknologi informasi seperti sekarang menjadi melting pot atau kuali peleburan antartlatah kebudayaan lain di Jatim. Tlatah Arek menjadi sentral aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya Jatim ada di kawasan ini.
Komunitas budaya terbesar ketiga adalah Madura. Wilayahnya di Pulau Madura. Menurut Kuntowijoyo (UGM Yogyakarta), keunikan Madura adalah bentukan ekologis tegal yang khas, yang berbeda dari ekologis sawah di Jawa. Pola permukiman terpencar, tak memiliki solidaritas desa, sehingga membentuk ciri hubungan sosial yang berpusat pada individual, dengan keluarga inti sebagai unit dasarnya (Kuntowijoyo, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940, 2002).
Wilayah Timur dari Jatim menjadi lahan bagi warga Madura untuk ”mengejar rezeki”. Wilayah ini menjadi tanah tumpah darah kedua orang Madura Pulau. Banyak imigran Madura bermukim dan bersanding dengan orang berbudaya Jawa. Kawasan ini sering disebut sebagai Pandalungan.
Di sini ada titik pertemuan antara budaya tegal (Madura) dengan budaya sawah (Jawa). Ciri-ciri masyarakat Pandalungan adalah agraris dan egaliter, bekerja keras, agresif, ekspansif, dan memiliki solidaritas tinggi, serta menempatkan pemimpin agama Islam (kiai) sebagai tokoh sentral.
Tlatah kebudayaan Osing yang berpusat di Kabupaten Banyuwangi adalah subkultur budaya yang mempertemukan budaya Jawa Kuno dengan kultur Bali. Budaya Osing merupakan warisan kebudayaan Kerajaan Blambangan (abad ke-12). Orang Osing dikenal sebagai petani yang rajin dan seniman yang andal. Tari Gandrung salah satu simbol budaya penting komunitas orang Osing.
Itulah Jatim. ”Kue lapis budaya” begitu kental di provinsi ini. Pengaruh budaya luar yang ikut mempengaruhi Jawa adalah budaya dari India (Hindu dan Buddha), Islam, China, lalu disusul Eropa (Belanda dan Inggris). Dan warna tradisi budaya ini berpengaruh besar terhadap tradisi politik yang berlangsung di Jatim dalam wujud pengaplingan wilayah politik dalam konteks ini.
Tlatah Politik Penting
Bagaimana potret Jatim dalam perspektif politik? Demokrasi elektoral yang dipraktikkan di lapangan politik praktis Indonesia sejak Pilpres 2004, menempatkan wilayah provinsi dengan tingkat demografi besar memiliki nilai strategis politik tinggi.
Dalam konteks ini, Provinsi Jatim mendapat ‘berkah’ dari penerapan model demokrasi elektoral dalam lanskap politik kontemporer Indonesia sekarang.
Provinsi Jatim kini berpenduduk sekitar 40 juta jiwa, di mana 30 juta jiwa di antaranya memiliki hak memilih dalam kontestasi politik: konstituen.
Jumlah konstituen pemilu di Jatim terbesar kedua di Indonesia di bawah Provinsi Jabar. Posisi konstituen terbesar kedua ditempati Provinsi Jateng, dengan jumlah pemilih sekitar 26 juta.
Hajatan Pilpres 2024 memposisikan Jatim sebagai tlatah politik yang menentukan. Pemilih di provinsi ini diestimasikan sebagai bandul politik bagi pasangan capres-cawapres mana pun. Artinya, siapa yang mampu merebut suara signifikan dari Jatim, diperkirakan pasangan capres tersebut yang memenangkan kontestasi politik ini.
Realitas politik serupa terjadi di Pilpres 2014 dan 2019. Di mana capres Jokowi dan pasangannya memperoleh kemenangan cukup signifikan di Jatim, terutama di Pilpres 2019. Di mana gap raihan suara antara pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dibanding Prabowo-Sandiaga Uno cukup tajam.

Secara nasional, hasil Pilpres 2019 menempatkan Jokowi-Ma’ruf dengan dukungan 55,50 persen suara sah, sedang Prabowo-Sandi dengan 44,50 persen suara sah. Selisih suaranya 16,9 juta suara. Di level Jatim, Jokowi-Ma’ruf Amin memperoleh 16.231.668 suara (65,79 persen), dan Prabowo-Sandi dengan 8.441.247 suara (34,21 persen).
Beda raihan suara antara Jokowi versus Prabowo di Jatim hampir 8 juta suara. Artinya, keunggulan raihan suara Jokowi versus Prabowo sebesar 16,9 juta secara nasional, hampir 50 persen di antaranya disumbang pemilih Jokowi dari daerah pemilihan (dapil) Jatim.
Tak mengherankan dalam praktek politik akhir-akhir ini, terutama dalam melihat dinamika politik antarelite yang bakal bertarung di kontestasi Pilpres 2024, ada beberapa bakal capres membangun komunikasi cukup intensif dengan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa untuk dipertimbangkan digandeng sebagai bakal cawapres.
Logika sederhana yang ingin direngkuh adalah merebut suara pendukung Khofifah di Jatim, khususnya kalangan Muslimat NU, yang dikenal memiliki loyalitas dan militansi dukungan yang konsisten.
Disebut-sebut bahwa Prabowo Subianto (Partai Gerindra) dan Anies Rasyid Baswedan (Partai Demokrat, PKS, dan Partai NasDem) adalah dua bakal capres yang mempertimbangkan Khofifah sebagai bakal cawapres yang digandengnya.
Nama Jusuf Kalla (JK), politikus Partai Golkar dan pengusaha sukses yang juga aktivis HMI Unhas Makassar, termasuk yang mendorong Anies bertandem dengan Khofifah. Bagi JK, Khofifah adalah figur pemimpin yang telah terbukti dan teruji gaya kepemimpinannya baik di lapangan politik praktis (aktivis PPP dan PKB), pemerintahan (Menteri Sosial dan Gubernur Jatim), dan sosial kemasyarakatan (Ketua Umum PP Muslimat NU).
Poin lainnya adalah Khofifah telah beberapa kali terjun dalam kontestasi politik langsung secara personal (Pilgub Jatim sebanyak 3 kali), yang di-backup energi politik dan sosial besar yang teruji. Basis pendukung tradisionalnya: Muslimat NU, terbukti loyal dan militan.
Modal politik itu penting, mengingat figur bakal cawapres mesti memberikan kontribusi elektoral besar dan nyata kepada bakal capresnya.
Dorongan untuk menggandeng Khofifah juga tampak dari bakal capres Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) dan tokoh yang sedang berada di pusat kekuasaan, besar kemungkinan langkah politik Prabowo mendekati dan membangun komunikasi politik dengan Khofifah itu atas input, restu, dan sepengetahuan elite puncak kekuasaan.
Tampaknya, Pilpres 2024 mendatang kembali menempatkan dapil Jatim sebagai wilayah penentuan untuk merebut kemenangan bagi pasangan capres-cawapres.
Mengubah dan membongkar lanskap politik regional Jateng yang dikenal sebagai basis tradisional kaum Nasionalis Soekarnoisme (PNI/PDIP) sangat teramat berat. Hal serupa untuk konteks teritori politik Jabar, di mana kekuatan Islam Modernis begitu mengakar dengan infrastruktur jejaring politik yang telah melembaga.
Sejak Pemilu 1955, Jabar adalah kantong suara kaum Islam Modernis (Partai Masyumi), yang berlanjut hingga sekarang. Di mana kekuatan PKS, komunitas politik pascareformasi 1998 yang didominasi kalangan Islam Modernis, dikenal mempunyai jejaring dan basis dukungan politik yang kuat di Jabar.
Jateng dan Jabar adalah kantong suara gemuk Pilpres 2024 selain Jatim. Kekuatan Islam Tradisional (NU) di Jatim adalah komunitas politik mainstream. NU dalam perspektif jam’iyyah tak lagi terlibat dalam politik praktis. Banyak tokoh dan elite tersebar di banyak partai, meski sebagian besar adalah aktivisme politik di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan sejumlah partai lainnya.
Karena itu, tak berlebihan jika dikatakan bahwa figur capres yang mampu menggandeng tokoh dari Jatim, khususnya dari kalangan NU, berpeluang besar memenangkan kontestasi Pilpres 2024. Fakta Pilpres 2014 dan 2019 menegaskan bahwa figur berlatar NU sebagai determinan penting merebut suara massa di akar rumput dan memenangkan kontestasi politik tersebut.
Ainur Rohim, Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






