Sumenep (beritajatim.com) – Masalembu merupakan pulau yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Cuaca ekstrem yang di Perairan Pulau Masalembu, bukan lagi cerita baru.
Pulau yang berjarak sekitar 112 mil dari Pelabuhan Kalianget ini sudah sangat akrab dengan terjangan badai. Kondisi ini tidak mengherankan, lantaran pulau ini terletak di lepas pantai Sumenep.
Cerita tentang guncangan badai yang memaksa para nelayan menambatkan perahunya ini terjadi setidaknya dua kali dalam setahun. Biasanya pada Desember-Januari dan Juli-Agustus, di musim angin barat.
Tetapi kondisi di tahun ini benar-benar berbeda. Tampaknya ada pergeseran masa cuaca buruk.
Kepala Desa Masalima, Darus Salam mengisahkan, pergesaran terjadinya badai ini seperti ‘kejutan’ bagi warga Masalembu. Ditambah lagi dengan durasi badai yang cukup panjang.
Normalnya, badai akan reda dalam sepekan. Sementara sekarang ini, badai terus mengguncang Masalembu hingga lebih dari tiga pekan.
“Masyarakat Masalembu banyak yang ‘terkecoh’. Tidak menyangka bahwa badai terjadi di akhir Februari dan sangat lama. Jadi banyak pedagang Masalembu yang terlanjur ke daratan Sumenep untuk kulakan, ternyata nggak bisa pulang, tertahan di pelabuhan. Sebaliknya, yang berkunjung ke Masalembu tertahan nggak bisa kembali ke daratan,” ujar Darus, Kamis (2/3/2023).
Baca Juga: Khofifah Lepas KRI Malahayati 362 Bawa Bantuan Logistik ke Masalembu
Tetapi, masa badai panjang saat ini tidak sekedar menyuguhkan cerita pilu seperti kelangkaan beras, elpiji, air mineral, maupun kebutuhan lain. Bagi warga Masalembu, khususnya kaum nelayan, ini pertanda baik.
Ketika badai berlalu, berarti masa panen ikan akan tiba. Ibarat buku RA Kartini, ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.
“Para nelayan di Masalembu ini sudah sangat hapal kalau setelah badai, hasil tangkapan akan menumpuk. Jadi masa rehat tak melaut kemarin ini segera berganti dengan pesta tangkapan ikan yang melimpah,” tutur Darus sambil tersenyum.
Ia mengatakan, meski kerab diakrabi badai, Pulau Masalembu tetap dilirik para nelayan luar terutama kawasan Pantai Utara (Pantura) seperti Lamongan. Mereka seolah paham, di laut Masalembu tersimpan ikan yang melimpah dengan berbagai jenis.
“Pulau Masalembu ini jadi idolanya nelayan Pantura. Makanya kapal-kapal porsein dari Lamongan dan sekitarnya ini sering menangkap ikan di sekitar Perairan Masalembu. Karena mereka tahu, ini ‘surganya’ para nelayan yang ingin pulang bawa tangkapan banyak,” ucapnya.
Pulau Masalembu terdiri dari tiga pulau besar. Pulau Masalembu sebagai ibu kota kecamatan, kemudian Pulau Masakambing, dan Pulau Karamian.
Pulau Masakambing merupakan pulau terdekat dari Masalembu. Hanya butuh waktu 1 jam perjalanan laut untuk sampai ke Masakambing dari Masalembu.
Baca Juga: Krisis Pangan Masalembu, Kapal TNI AL Datang Bawa 20 Ton Beras
Namun jangan ditanya tentang kondisi lautnya. Ombak antara Masalembu dan Masakambing cukup memicu adrenalin, karena merupakan pertemuan dua arus.
Ombak yang tak pernah melandai sepanjang waktu. Selalu tinggi dan menakutkan.
Sedangkan Pulau Karamian merupakan pulau terjauh yang memerlukan waktu 5 jam perjalanan laut dari Masalembu. Pulau Karamian ini justru lebih dekat dengan Kota Baru, Kalimantan.
Mungkin ini yang menjadi salah satu sebab, mengapa orang menyebut Masalembu lebih dekat ke Kalimantan dibanding ke Sumenep.
“Sebenarnya tidak terlalu pas anggapan itu. Karena lalu lalang orang dan barang di Masalembu ini tetap ke Sumenep atau ke Surabaya pilihannya. Bukan ke Kalimantan,” terangnya.
Darus bahkan mengibaratkan Pulau Masalembu ini sebagai ‘Sabuk Nusantara’, karena tepat berada di tengah-tengah Pulau Jawa dan Kalimantan. Jaraknya sama-sama berkisar 125 mil.
Baca Juga: Tak Ada Kapal ke Masalembu, Penumpang Bermalam di Pelabuhan Kalianget
“Itu kalau ditarik ordinat lurus. Jadi Pulau Masalembu ini sebenarnya pulau yang unik. Jangan takut ke Masalembu. Ini Pulau yang cantik. Dikelilingi pasir putih dan dipagari karang laut yang menjadi berkah bagi para nelayan,” tuturnya
Ia melanjutkan, Pulau Masalembu ini merupakan cermin keberagaman. Termasuk keberagaman suku. Ada tiga suku yang hidup rukun di Madura. Suku Madura, Suku Bugis, dan Suku Mandar.
Cukup lazim terjadi di Masalembu, Suku Madura pandai berbahasa Bugis, dan sebaliknya Suku Bugis pandai berbahasa Madura. Semua hidup berdampingan tanpa ada yang mempersoalkan masalah suku, bahasa, maupun budaya.
“Jadi kalau bicara Pulau Masalembu bukan sekedar soal badai dan kelangkaan bahan pangan. Masalembu juga menyimpan cerita menarik. Ditambah gadis-gadis Bugis yang berkulit putih dan cantik,” ujarnya sambil berseloroh.
Sementara tentang kisah Kapal Tampomas yang tenggelam di sekitar Perairan Masalembu pada 1981, Darus mengaku hampir semua warga Masalembu mendengar cerita kelam itu. Meski begitu, tak pernah menyurutkan semangat warga untuk tetap melaut demi menyambung hidup.
Sebagian besar warga Masalembu memang menggantungkan hidupnya dari hasil melaut, berdagang, dan bertani.
“Selama ini yang sering mengalami kecelakaan laut justru bukan orang Masalembu, tapi mereka yang melintas melewati Masalembu. Seperti Kapal Tampomas, itu kan kapal dari Jakarta menuju Sulawesi. Saat melintas di Perairan Masalembu terjadi musibah kebakaran kapal hingga akhirnya tenggelam,” paparnya. [tem/beq]






