Ada dua pertanyaan tentang sepak bola yang senantiasa menghantui Simon Kuper. Pertama, bagaimana sepak bola bisa berdampak terhadap kehidupan sebuah negara. Kedua, bagaimana kehidupan berbangsa dan bernegara berdampak terhadap sepak bola.
Michel Platini, pemain legendaris Prancis mengatakan, sebuah tim sepak bola merepresentasikan jati diri dan budaya bangsa. Jadi, apa yang membuat tim nasional Brasil atau Inggris bermain seperti sekarang?
Kuper seorang jurnalis. Ia bukan pesepakbola profesional, dan telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tinggal dan menyaksikan sepak bola di Belanda, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat. Dia juga menulis sejumlah artikel mengenai sepak bola di sejumlah majalah. Namun dia tidak pernah duduk dalam ruang khusus wartawan di stadion atau berbicara dengan pesepakbola profesional.
Tidak ada pilihan lain untuk menjawab dua pertanyaan itu selain plesir selama sembilan bulan ke 22 negara, dari Ukraina, Kamerun, Argentina, sampai Skotlandia. Ia bertemu dan mewawancarai pelatih sepak bola, politisi, mafia, sesama jurnalis, fans, dan pemain.
Kuper tergolong ‘bonek’. Bondo nekat. Betapa tidak, ia berpetualang dengan bermodal hanya lima ribu pound atau sekitar Rp 100 juta jika dihitung dengan kurs saat ini. Waktu tiga bulan dihabiskannya berkeliling Eropa dengan naik kereta api. Pulang ke London, dia mencuci pakaian sebelum terbang ke Afrika.
Cekaknya isi dompet, membuat Kuper sempat gamang bakal ditolak atau diabaikan komunitas pesepakbola dan pelatih yang terbiasa hidup mewah dan tampil necis. Kejutan pertama datang dari Josef Chovanec, pemain Sparta Praha yang meminta imbalan 300 poundsterling untuk jadi narasumber.
Namun tak semua narasumber mata duitan. Roman Obchenko, kepala urusan hubungan internasional Dynamo Kiev, malah seperti ‘ember bocor’ yang dengan enteng mengatakan klub itu mengantongi lisensi untuk mengekspor komponen-komponen misil nuklir, dua ton emas, metal, termasuk platina.
“Kok bisa?” tanya Kuper penasaran.
Jawaban Obchenko bisa ditebak: rasuah.
Tentu saja, tidak semua klub bermain api dengan urusan nuklir. River Plate, klub raksasa Argentina, justru memilih untuk mengelola taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi. Kuper terpesona. Mungkin seharusnya dia datang ke Indonesia, menjumpai komunitas Bonek, suporter Persebaya Surabaya, yang membangun panti asuhan dan musala, untuk memahami seberapa serius sepak bola bagi masyarakat sebuah negara yang sering dianggap berkembang.
[berita-terkait number=”3″ tag=”sepakbola”]
Perjalanan sembilan bulan semakin menyadarkan Kuper bahwa sepak bola bukan hanya permainan. Sepak bola bisa menjadi bagian dan pemicu perang, revolusi, menarik minat mafia dan para diktator. “Soccer is not a simple game. It is a weapon of the revolution,” kata Ernesto “Che” Guevara, tokoh revolusi kiri asal Argentina yang wajahnya menjadi tato di lengan Diego Maradona.
Dua pemimpin fasis, Mussolini dan Franco, sangat memahami kalau sepak bola adalah jalan pintas menuju kekuasaan. Bahkan Joseph Goebbels, propagandis Nazi, pernah menegaskan: “For the people, winning a soccer game is more important than capturing a city in the East.” Memenangi sebuah pertandingan sepak bola lebih penting ketimbang menduduki sebuah kota.
Rezim militer di Brasil berkuasa lebih lama setelah Pele dan kawan-kawan memenangi Piala Dunia 1970. Nigeria dan separatis Biafra di Afrika melakukan gencatan senjata sehari hanya untuk memghormati Pele yang berkunjung ke Nigeria untuk memainkan pertandingan eksibisi. Sebelum Piala Dunia 1970 digelar, pertandingan sepak bola memicu perang dalam arti sesungguhnya antara El Salvador dan Honduras.
Kuper mencatat bagaimana sepak bola membuat Nikolai Starostin, pendiri klub Spartak Moskow, dibuang ke gulag oleh pemerintah komunis Uni Soviet. Gulag adalah semacam pusat konsentrasi penyiksaan dan penahanan musuh rezim Stalin di Siberia. Namun sepak bola pula yang menyelamatkannya.
Saking berbahayanya sepak bola, lembaga intelijen rahasia Jerman Timur Stasi mengawasi seorang fans Hertha Berlin, Helmut Klopfleisch. Sejak kecil, Klopfleisch ke stadion untuk mendukung Hertha. Namun saat tembok berdiri membelah Berlin dan Hertha memilih pindah ke sisi barat kota bersama Jerman Barat, mendadak Klopfleisch dianggap musuh negara.
Perjalanan Kuper ini yang kemudian dirangkum dalam buku ‘Football Against The Enemy’ pada 1993, dan edisi Amerikanya berjudul ‘Soccer Against the Enemy: How the World’s Most Popular Sport Starts and Fuels Revolutions and Keeps Dictators in Power’. Buku ini diganjar penghargaan William Hill Sports Book of the Year 1994 dan termasuk dalam 50 buku sepak bola terbaik sepanjang zaman versi Majalah Four Four Two.
Jurnalis Jon Spurling menyebut, setelah dua dasawarsa, Football Against The Enemy tetap satu-satunya buku yang bisa menjelaskan bagaimana isu-isu politik dan kultural mempengaruhi sepak bola secara global. Mungkin hanya buku Soccernomics yang ditulis Kuper bersama Stefan Szymanski yang bisa menandingi kemasyhuran buku tersebut.
Namun buku ini bukannya tanpa kelemahan. Bicara soal sepak bola dan politik, Kuper justru tak menyinggung sama sekali soal Ultras, kelompok suporter fanatik klub di berbagai negara Eropa, Afrika, dan Asia yang sangat politis. Dia justru lebih banyak menulis soal hooligans, sebutan orang Inggris untuk kelompok suporter biang onar, yang banyak mempengaruhi pertumbuhan kelompok suporter sejenis di negara Eropa lainnya.
Satu di antaranya Bad Blue Boys, kelompok suporter Dynamo Zagreb dari Kroasia, yang dibentuk karena terinspirasi para berandalan pendukung Chelsea. Belakangan Bad Blue Boys lebih politis daripada Headhunters, hooligans masyhur asal London Biru. Mereka berada di garis depan perang Balkan, dan banyak yang gugur dengan mengenakan emblem logo Dynamo Zagreb.
“Jika saya berusia 22 tahun lagi hari ini dan mau tidur di kereta, saya tetap ingin berkeliling dunia untuk menulis buku seperti Football Against the Enemy, karena saya pikir sepak bola tetap menjadi kunci dunia,” kata Kuper dalam pengantar edisi Amerika Serikat.
Kuper tidak lagi melakukannya tentu saja. Namun satu dekade kemudian, seorang jurnalis majalah The New Republic Amerika Serikat, Franklin Foer, menapaktilasi karya Kuper, dengan melakukan perjalanan serupa, mulai dari Serbia, Skotlandia, Italia, hingga Iran, dan menuliskannya dalam buku dengan judul lebih moderat dan akademis: ‘How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization’.
Foer memakai perspektif sepak bola untuk memikirkan cara bagaimana orang mengidentifikasi dirinya di tengah era globalisasi. Dan ia membuktikan betapa benarnya Kuper. Musuh-musuh sepak bola akan selalu ada. Bahkan, globalisasi gagal menggerus kebencian dalam sepak bola, tak bisa menghalangi kehadiran para antagonis dan oligarki yang memanipulasi sepak bola, serta gagal menutup perjuangan nasionalisme atau bahkan tribalisme politik dalam sepak bola.
Dua pertanyaan Kuper terjawab sudah.[wir]






