Mojokerto (beritajatim.com) – Masyarakat Mojokerto Raya menikmati atraksi barongsai yang digelar Klenteng Hok Sian Kiong Kota Mojokerto. Atraksi barongsai yang digelar di halaman Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) ini dalam rangka perayaan tahun baru Imlek 2023.
Masyarakat tidak hanya dari Kota Mojokerto saja namun juga dari Kabupaten Mojokerto. Mereka datang ke klenteng yang didirikan tahun 1823 ini untuk melihat pertunjukan barongsai yang merupakan barongan Cina yang biasa dipertunjukkan pada tahun baru Imlek.
Salah satu warga, Agustin (38) mengatakan, jika pertunjukan barongsai tersebut kurang seru karena tidak dikirab seperti sebelum pandemi Covid-19. “Kurang lama, kurang seru ya, anak-anak kurang puas karena tidak dikirab tidak lengkap. Pertunjukannya kan banyak,” ungkapnya, Minggu (22/1/2023).
Atraksi barongsai yang digelar di halaman Klenteng Hok Sian Kiong tersebut hanya berlangsung 1,5 jam yakni mulai pukul 08.30 WIB sampai pukul 10.00 WIB dan dinilai monoton. Lantaran tidak dikirab dan jenis-jenis pertunjukan hanya barongsai, tidak ada naga seperti tahun sebelum-sebelumnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”imlek”]
“Ndak keliling dan ndak lengkap, kemarin (sebelum pandemi) ada naganya. Sekarang tidak ada. Tapi tahun ini ya lumayan dari tahun kemarin kan pandemi sudah berakhir,” kata warga Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini.
Sementara itu, Pengurus Klenteng Hok Sian Kiong, Ongko Koyo mengatakan, jika memang pertunjukan barongsai hanya berlangsung 1,5 jam karena rombongan barongsai telat datang dan cuaca panas. “Karena cuaca panas jadi dihentikan. Hanya 1,5 jam. Masyarakat senang karena ini tradisi tiap tahun,” ujarnya.
Atraksi barongsai ini menjadi agenda rutin di Klenteng Hok Sian Kiong saat perayaan tahun baru Imlek. Namun atraksi barongsai hanya bisa digelar di halaman klenteng, tidak dikirab seperti sebelum pandemi Covid-19 pada tahun 2020 lalu. “Di tahun Kelinci Air ini, diharapkan toleransi antar umat beragama terus terjaga. Semoga negara Indonesia lebih sejahtera dan semua pemimpin damai,” harapnya.
Klenteng Hok Sian Kiong berada di persimpangan jalan di Kota Mojokerto yaitu di Jalan Residen Pamuji dan Jalan PB. Sudirman. Salah satunya tradisi pemandian rupang dan pemasangan lampion yang sudah dilakukan pada, Minggu (15/1/2023).
Puncak Imlek akan dimulai pada, Sabtu (21/1/2023). Diawali dengan memasang persembahan buah, dan penabuhan lonceng. Sedangkan ibadah tahun baru Imlek dilangsungkan pada, Selasa (24/1/2023). Kapasitas ruang ibadah Klenteng Hok Sian Kiong bisa dipakai untuk sekitar 200 orang.
Mengutip dari website resmi Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, Klenteng Hok Sian Kiong didirikan pada tahun 1823 pada masa penjajahan kolonial Belanda berlokasi.
Awalnya berada di Sentanan Kidul (Sekarang Jalan Kapten Piere Tendean) yang merupakan gudang milik Oei Kiem Hoa. Berkat jasa dari Letnan Ong An Thay, Oei Kiem Hoa, dan Letnan Tjoa Sien Kie, (dari Surabaya), keberadaan Klenteng Hok Sian Kiong dipindahkan ke Jalan Panglima Sudirman Nomor 1 pada tahun 1874 hingga sekarang.
Bangunan awalnya berada di halaman sisi selatan yang saat ini digunakan sebagai ruang altar Kwan Im Hud Co. Baru pada tahun 1906 atas usaha Letnan Ong An Thay dilakukan pembangunan gedung baru berada di depannya (utara bangunan lama) yang saat ini digunakan sebagai bangunan induk altar Makco Thian Shang Sheng Mu.
Perubahan dan perbaikan terus dilakukan tahun 1930 atas usaha Kongsi Tan Oen Liang dengan arsitek Liem Toen Thay. Pembangunan ini mencakup bagian sayap di kanan dan kiri bangunan induk. Pembangunan fisik dan fasilitas pendukung terus berlangsung dari masa kolonial Belanda hingga Jepang.
Setelah memasuki masa kemerdekaan tahun 1945, mulai ada kebebasan untuk beribadah termasuk di Klenteng Hok Sian Kiong yang berarti Klenteng “peri kebajikan” ini. Sekitar tahun 1955 bangunan sebelah barat klenteng digunakan sebagai Vihara. [tin/kun]






