Mojokerto (beritajatim.com) – Desa Watesumpak di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, dikenal luas sebagai sentra perajin pahat batu dengan produk seni berkualitas tinggi yang diminati pasar dalam dan luar negeri. Produk pahatan dari desa ini telah menembus pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Cina, Jepang, Korea, hingga India.
Kepala Dusun Jatisumber, Wawan Ariyanto, menyebut jumlah perajin di wilayahnya mencapai ratusan orang, tergabung dalam berbagai kelompok kerja. “Ini sudah menjadi sentra perajin pahat batu secara turun-temurun, kualitasnya unggul,” ujarnya, Jumat (30/5/2025).
Menurutnya, keunggulan karya seni dari Watesumpak terletak pada bahan baku yang digunakan, yakni batu gunung dan batu kali, yang terbukti memiliki kualitas lebih baik dibanding daerah lain. Saat ini, sedikitnya tiga kelompok perajin aktif beroperasi dan mampu menyerap hingga 150 tenaga kerja lokal.
Produk yang dihasilkan sangat beragam, mulai dari patung tokoh-tokoh dewa seperti Budha, Ganesha, Siwa, Dewi Sri, hingga patung sapi Nandi. Selain itu, perajin juga membuat produk batu alam lainnya seperti bak mandi.
Wawan menambahkan, tak sedikit calon pembeli dari luar negeri datang langsung ke lokasi untuk melihat proses pengerjaan dan memastikan kualitas batu yang digunakan. “Biasanya yang datang dari luar negeri seperti China, Jepang, Korea, hingga India. Mereka datang langsung ke lokasi untuk pesan atau melihat prosesnya,” katanya.
Salah satu perajin, Iswanto, mengaku telah menekuni seni pahat batu selama 17 tahun. Ia tergabung dalam kelompok Natural Stone bersama empat perajin lain. Dalam sebulan, mereka mampu menyelesaikan tiga hingga empat patung. “Harganya bervariasi tergantung ukuran dan motif. Misalnya patung sapi Nandi ukuran 1 meter bisa dijual Rp5 juta hingga Rp6 juta, belum termasuk ongkos kirim,” ujarnya.
Motif yang banyak diminati antara lain patung sapi Nandi, kepala dewi, dan Ganesha. Permintaan terbanyak datang dari Bali serta sejumlah negara di Asia. [tin/beq]






