Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia memutuskan Liga 2 dan Liga 3 musim 2022-23 dihentikan, Kamis (12/1/2023). Sebelumnya, Liga 2 sudah berjalan separuh musim, Liga 3 di beberapa wilayah sedang berlangsung, sementara Liga 3 di Jawa Timur ditiadakan.
Keputusan ini merupakan dampak Tragedi Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022). Tragedi itu merupakan tragedi pertandingan sepak bola terbesar di Indonesia, yang menyebabkan 135 orang meninggal dunia dan ratusan orang lainnya terluka.
PSSI menyodorkan tiga alasan penghentian liga itu. Pertama, berdasarkan permintaan dari mayoritas klub Liga 2. Kedua, menyesuaikan rekomendasi tim Transformasi Sepak Bola Indonesia yang menilai sarana dan prasarana klub Liga 2 belum memenuhi syarat yang ditetapkan. Terakhir, berdasarkan pada Peraturan Polisi Nomor 10 Tahun 2022 tentang Periode Perizinan Kompetisi maksimal 14 hari sebelum waktu pertandingan.
Alasan pertama meledakkan kontroversi. Manajer Persela Lamongan, Fariz Julinar Maurisal, menegaskan, klub-klub Liga 2 menghendaki sistem bubble di bawah kendali PT Liga Indonesia Baru. Sistem ini meniadakan pertandingan kandang dan tandang, karena sejumlah laga dilaksanakan terpusat di satu atau dua stadion. “Mungkin mereka (PSSI) keberatan. Tapi langsung diputuskan selesai (dihentikan),” katanya.
Fariz juga menyebutkan, banyak dari perwakilan klub Liga 2 yang merasa tidak menandatangani keputusan penghentian itu. Manajemen Gresik United (GU) bahkan menduga ada pemalsuan tanda tangan soal persetujuan penghentian Liga 2. “Permasalahan ini yang kami cari, merasa tidak pernah menandatangani kok muncul tanda tangan setuju dihentikan,” ujar Manajer Operasional Gresik United, Thoriqi Fajrin, Jumat (13/1/2023).
Persoalan sarana dan prasarana klub, terutama stadion yang belum sesuai standar FIFA, bukanlah hal baru di Indonesia. Bertahun-tahun PSSI tidak memberikan cukup perhatian terhadap problem ini. Jauh sebelum Tragedi Kanjuruhan terjadi, ada sejumlah stadion yang tak layak namun masih digunakan untuk berkompetisi. Padahal PSSI memiliki tim untuk menginspeksi stadion-stadion sepak bola di Indonesia.
Bertahun-tahun klub-klub Indonesia berada dalam zona nyaman dan tak memperhatikan kondisi stadion yang menjadi kandang mereka. Tentu saja mereka tak bisa sepenuhnya disalahkan, karena semua klub di Indonesia tidak memiliki stadion sendiri layaknya di Inggris. Mereka selama ini hanya menyewa dari pemerintah daerah setempat.
Kuasa untuk memperbaiki stadion ada di tangan pemerintah daerah. Masalahnya tak semua pemerintah daerah memiliki cukup dana untuk memperbaiki stadion, terutama mengubahnya menjadi all seater stadia atau menggunakan kursi tunggal (single seat) untuk penonton.
Perubahan fasilitas dan infrastruktur stadion bukan urusan Bandung Bondowoso. Memberlakukan kriteria kelayakan stadion dengan sangat ketat hanya dalam waktu 100 hari setelah Tragedi Kanjuruhan, adalah langkah tak bijak dan cenderung ingin mencari jalan keluar mudah dengan membebankan tanggung jawab pada satu pihak saja.
Meniru Inggris, transformasi sepak bola di sana usai Tragedi Hillsborough pada 1989 berjalan bertahap. Football Association (FA), federasi sepak bola Inggris, menetapkan rekomendasi ‘all seater stadia’ dari Lord Justice Taylor harus sudah dilaksanakan semua klub tanpa terkecuali, paling lambat pada 1994.
Taylor tak hanya memberi rekomendasi, namun juga jalan keluar yang harus dipatuhi FA dan semua klub. Dia juga merekomendasikan penurunan pajak klub-klub sepak bola dari 42,5 persen menjadi 40 persen, dengan kompensasi pemasangan kursi di semua tribun.
FA juga diminta meningkatkan harga penjualan hak siar televisi, dan hasil penjualan tersebut digunakan untuk merenovasi stadion agar lebih layak. Tak ada jalan lain, kecuali semua klub dan otoritas sepak bola di Inggris berbenah besar-besaran lima tahun setelah tragedi yang merenggut 96 jiwa penonton itu.
Reformasi sepak bola di Indonesia tak bisa hanya dilakukan sendiri oleh klub. PSSI harus berjalan bersama dengan pemerintah daerah pemilik stadion. Parlemen harus mendukung Presiden Joko Widodo untuk mengeluarkan regulasi yang mewajibkan seluruh pemerintah daerah yang memiliki stadion untuk kompetisi Liga 1, 2, dan 3 agar mengalokasikan anggaran perbaikan sesuai standar. Beri waktu setidaknya lima tahun untuk memperbaiki.
Dampak Negatif Bagi Sepak Bola Indonesia
Penghentian kompetisi Liga 2 dan Liga 3 menyebabkan kerugian finansial tak sedikit bagi klub-klub. Akun Twitter Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pun mencurahkan isi hati: ‘Kami hanya tim kecil yang bermarkas di DIY. Kami kumpulkan dana dari donatur dan sponsor sedikit demi sedikit untuk persiapan Liga 3’.
Para pemain dan ofisial Sulut United membuat video yang berisi permohonan agar kompetisi dilanjutkan. Di atas kertas yang mereka bawa tertulis harapan itu, dan rasa kecut karena penghentian kompetisi tak ubahnya mengambil periuk nasi mereka. “Saya driver bus, saya hidup dari sepak bola,” video itu dibuka oleh seorang laki-laki yang berdiri di depan bus tim.
Tidak diputarnya kompetisi Liga 2 dan Liga 3 berdampak pada pelaksanaan kompetisi Liga 1. Terikat kontrak penyiaran dengan stasiun televisi, Liga 1 tetap bergulir dengan meniadakan degradasi dan promosi. Juara liga pun tidak berhak mewakili Indonesia ke level Asia.
Kompetisi liga tanpa promosi dan degradasi bukanlah hal aneh. Major League Soccer, kompetisi sepak bola Amerika Serikat, yang diikuti 29 klub tak mengenal sistem itu. Namun sejak awal kompetisi ini sudah diniatkan tidak memiliki sistem promosi dan degradasi, sehingga tidak relevan jika dibandingkan dengan Indonesia. Dengan banyaknya klub sepak bola di hampir semua kota, promosi dan degradasi adalah keniscayaan dalam piramida kompetisi di Indonesia.
Tanpa promosi dan degradasi, Liga 1 kehilangan ruh sebuah kompetisi: persaingan. Tanpa ada degradasi, semua tim bermain tanpa tekanan dan determinasi. Ini bisa berbahaya, karena ini membuka peluang pengaturan skor atau hasil pertandingan untuk bisnis judi.
Belum terlambat untuk mengubah keputusan itu. Masih ada waktu agar kompetisi Liga 2 dan Liga 3 tetap berputar. Hanya perlu keteduhan hati untuk mau mendengarkan.
Oryza A Wirawan, jurnalis beritajatim.com dan pemerhati dunia sepak bola






