Ponorogo (beritajatim.com) – Belum genap ada setengah bulan berjalan, kasus demam berdarah dengue (DBD) di bulan Januari ini sudah mencapai 18 kasus di Kabupaten Ponorogo. Padahal, dari laporan masyarakat yang kondisinya yang mengarah ke demam berdarah mencapai 69 kasus. Namun, jumlah 18 kasus DBD yang terjadi sampai tanggal 11 Januari ini, masih cenderung kecil jika dibandingkan kasus DBD pada tahun lalu di bulan yang sama, yakni mencapai 84 kasus.
“Bulan Januari tahun lalu ada 84 kasus. Kali ini bulan Januari hingga tanggal 11, jumlah penderita DBD di Ponorogo mencapai 18 kasus,” kata Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ponorogo Anik Setyorini, Rabu (11/01/2023).
Laporan yang masuk, oleh petugas Dinkes Ponorogo perlu dicermati, hingga diputuskan bahwa kasus itu memang benar-benar DBD. Sebab, untuk penyakit DBD, bukan hanya trombositnya saja yang turun hingga dibawah 100. Namun, juga harus diikuti kriteria lainnya. Salah satunya dengan hematokrit yang mengalami penurunan atau peningkatan kurang lebih 20 persen.
[berita-terkait number=”5″ tag=”DBD”]
“Laporan hingga 69 kasus itu, setelah dicermati kebanyakan mengalami panas dan trombosit turun. Namun, untuk hematokritnya tidak turun atau naik,” katanya.
Hasil untuk menyatakan pasien itu menderita DBD juga harus dilakukan dengan pembuktian laboratorium. Sehingga untuk menentukan kriteria DBD atau tidaknya harus sesuai hasil laboratorium dan harus rinci. “Kriteria kasus DBD harus rinci, dibuktikan dengan hasil dari laboratorium. Jadi jika hanya trombosit saja yang turun, belum pasti DBD,” katanya.
Anik menyebutkan bahwa 18 kasus DBD ini, dirinya belum merinci dari kecamatan mana saja di bumi reog. Namun, Dia bisa memastikan bahwa penderitanya tidak mengelompok di 1 kecamatan saja. “Untuk usia juga belum kita kelompokkan, namun mayoritas pasiennya berusia produktif,” pungkasnya. (end/kun)






