Ponorogo (beritajatim.com) – Tiara Maleeha Robbani, bayi berumur 3 bulan yang tidak memiliki tempurung kepala, akhirnya kini dirujuk ke RSUD dr. Sutomo Surabaya. Bayi asal Desa Karangan Kecamatan Badegan Ponorogo harus dirujuk ke Surabaya, setelah dirawat kurang lebih seminggu di RSUD dr. Sudono Madiun.
“Hari ini berangkat ke RSUD dr. Sutomo Surabaya, informasi yang kita peroleh pukul 10.00 WIB tadi sudah sampai di sana,” kata Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Ponorogo, Supriyadi, Rabu (4/1/2023).
Alasan dirujuk ke Surabaya, kata Supriyadi, penanganan bayi dari pasangan suami isteri Tulus Heri Siswono dan Maya Mujayani itu, perlu mendapatkan tindakan medis lanjutan. Nah, tindakan itu tidak bisa dilakukan di RSUD dr. Sudono Madiun. Sehingga dokter yang menangani Tiara di RSUD dr. Sudono Madiun, merujuknya ke RSUD dr. Sutomo Surabaya.
“Yang memberangkatkan ke Surabaya, Kemensos dan didampingi Dinsos P3A Ponorogo. Semoga di RSUD dr. Sutomo bayi Tiara mendapatkan penanganan yang terbaik,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Supriyadi meminta masyarakat bumi reog untuk ikut mendoakan untuk kesembuhan Tiara. Untuk urusan biaya rumah sakit, keluarga Tiara sudah diuruskan untuk mendapatkan KIS. Sedangkan untuk biaya sehari-hari keluarga yang menemani Tiara di rumah sakit, sudah ditangani oleh Kemensos. “Ada tim dari Dinkes, Kemensos dan RSUD dr Sudono yang mengantarkan Tiara untuk dirujuk ke RSUD dr. Sutomo Surabaya,” pungkasnya.
Untuk diketahui sebelumnya, Tiara Maleeha Rabbani, putri pertama warga Desa Karangan Kecamatan Badegan Kabupaten Ponorogo itu, memiliki benjolan di kepalanya. Benjolan itu ada sejak bayi itu lahir, hingga kini berusia tiga bulan. Diperkirakan bayi itu tidak memiliki tempurung kepala, sehingga mengakibatkan terdapat benjolan dan hanya dilindungi oleh kulit kepala saja.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bayi-ponorogo”]
Selain kelainan di bagian kepala, Tiara panggilan bayi tersebut, juga tidak memiliki hidung yang sempurna. Seperti tidak memiliki tulang hidung, sehingga lubang hidung posisinya ke atas. Dengan kondisi benjolan yang lebih dari segenggaman tangan orang dewas, selama ini, Maya belum mampu untuk menggendong bayi tersebut. Selama yang berani menggendong adalah neneknya Tiara. “Selama ini yang berani menggendong ibuk, saya belum berani menggendong karena masih takut,” ungkap Maya Mujayani.
Maya menceritakan bahwa selama masa kehamilan Ia tidak merasa ada keanehan. Dirinya pun juga rutin periksa ke bidan maupun dokter kandungan. Nah, saat periksa di salah satu dokter kandungan di Kabupaten Ponorogo, saat itu usia 7 bulan, sang dokter mengatakan bahwa bayinya yang ada di kandungan ada kelainan.
“Selesai diperiksa dan di-USG, dokter mengatakan ada kelainan, tidak punya batok kepala. Dokter menyarankan untuk segera di operasi untuk dikeluarkan,” katanya.
Karena merasa dirinya baik-baik saja, Maya tidak menyetujui operasi caesar tersebut, sebab dia ingin bayinya lahir normal. Akhirnya, Maya menunggu hingga 9 bulan. Saat itu dirinya dan keluarga menuju ke bidan desa, namun karena belum juga ada pembukaan, akhirnya bidan itu merujuk ke salah satu rumah sakit swasta di bumi reog. “Ya akhirnya dioperasi caesar di rumah sakit itu,” katanya.
Pasca persalinan, Maya tidak diberi tahu tentang anaknya. Hanya pihak rumah sakit memberitahu suaminya, bahwa bayi itu ada kelainan. Sehingga bayi itu dirujuk ke RSUD dr. Harjono Ponorogo, untuk menstabilkan dulu. Baru setelah dirawat selama 22 hari di rumah sakit plat merah itu, bayi Tiara diperbolehkan pulang.
“Saya diperbolehkan pulang, tetapi bayi dirujuk ke RSUD, katanya peralatannya lebih lengkap dan anak saya ada kelainan,” katanya. [end/suf]






