Jember (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyerukan kepada masyarakat agar mewaspadai ikan berformalin dan tidak mengonsumsinya saat perayaan malam tahun baru, Sabtu (31/12/2022).
Formalin adalah larutan yang tidak bewarna, berbau tajam yang mengandung lebih kurang 37 persen formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan Methanol 10-15 persen sebagai pengawet,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Lilik Lailiyah.
Formalin biasanya digunakan sebagai antiseptik dan pembersih lantai, disinfektan, pembuatan pupuk, triplek, wallpaper, dan pengawet sampel biologis dan mayat. Bukan untuk mengawetkan makanan.
“Jika sudah akut, dampak formalin terhadap manusia langsung terlihat seperti iritasi, alergi, mata kemerahan, berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut, dan pusing,” kata Lilik.
Dalam jangka panjang, mengonsumsi makanan berformalin bisa membuat iritasi parah, mata berair, gangguan pencernaan, hati, ginjal, pankreas, sistem syaraf pusat, menstruasi, dan dampak menyebabkan kanker.
“Efek sampingnya terlihat setelah jangka panjang, karena terjadi akumulasi formalin dalam tubuh,” kata Lilik.
Apa ciri ikan yang tidak mengandung formalin?
“Bisa kita lihat dari matanya. Mata menonjol, pupil hitam cerah. Insang berwarna merah cerah dan permukaan warna cemerlang. Tekstur elastis dan bisa ditekan dengan jari dan bau segar spesifik.Bila dipegang lemas lunglai, tidak keras dan kaku. Bila disayat warna daging ikan cerah, sedikit kemerahan sepanjang tulang belakang, dan isi perut penuh,” kata Lilik.
Lilik menyampaikan juga lima kunci keamanan pangan untuk manusia. “Pertama, belilah makanan yang aman. Kedua, simpan pangan secara aman. Ketiga, siapkan pangan secara seksama. Keempat, sajikan pangan secara aman. Kelima, kebersihan harus kita jaga selalu,” katanya. [wir/beq]






